[Tulisan ini sudah tayang duluan di Instagram, dengan lebih banyak visual]
Polusi udara di Jakarta kian mengkhawatirkan. Beberapa artis besar turut menyuarakan kegelisahan mereka. Kompas beberapa hari ini mengangkat isu polusi. Warga merasakan sendiri: langit biru yang tidak bisa dilihat lagi, udara segar yang tidak bisa dihirup lagi, polusi yang membuat mata dan tenggorokan sakit, hingga anak-anak yang jadi lebih rentan penyakit dan keluar masuk rumah sakit.
Warga pun bertanya-tanya. Kita bisa apa ya? Memakai masker kembali? Kembali WFH? Kurang-kurangi kegiatan luar ruangan? Pakai penyuci udara (air purifier)? Beli kendaraan listrik yang lagi diobral mati-matian sama pemerintah? Kembali naik becak? Polusinya ditiup? Pindah ke IKN?
Ya bisa-bisa aja sih, tapi gak akan banyak menyelesaikan masalah. Isunya ini struktural, jadi pendekatan-pendekatan personal gak akan banyak membantu. Iya, bisa mengurangi gejala terdekat dengan kita, tapi tidak menyelesaikan akar masalahnya.
Ini beberapa alternatif lain yang mungkin bisa kita coba:
- Berdoa. Hal termudah tapi paling kuat yang bisa dilakukan anak manusia. Berdoa bahwa ini semua hanyalah ujian. Ini semua hanya mimpi buruk yang akan segera terlewati.
- Berserah. Pada yang Maha Kuasa. Pada mereka yang kita pilih menjadi pejabat. Pada mereka yang mengelola pajak. Pada mereka yang harusnya mengelola negara.
- Berpasrah. Sadarlah bahwa semua manusia toh akhirnya akan meninggal. Jangan-jangan negara cuma memudahkan dan mempercepat kematian warganya saja. Memang hidup lama-lama mau ngapain sih?
- Berpindah. Ke kota lain yang lebih sehat. Atau negara lain yang lebih memikirkan nasib warganya.
- Berteriak. Jika semua solusi sudah dicoba namun tetap tidak berhasil, setidaknya kamu bisa berteriak. Luapkan kemarahan dan kesedihanmu. Tapi teriaknya di dalam ruangan ya. Sambil pakai masker. Biar saat kamu teriak tidak ada partikel-partikel buruk di udara yang masuk ke paru-parumu.
Oke, serius dikit. Langkah pertama menyelesaikan masalah adalah mengakui adanya masalah. Itu dulu yang paling penting. Jadi kalau yang menganggap ini masalah baru sebagian dari kita dan tidak dianggap serius pemerintah, ya gak akan selesai.
Kalau udah, baru melakukan analisis terhadap sumber masalah. Solusi-solusi jangka pendek yang di awal sempat saya bahas itu bukan akar masalahnya. Ya pakai masker, ya pakai penyuci udara, ya WFH. Itu cuma menangani gejala. Ibarat rumah kamu bocor tiap kali hujan, lalu yang kamu lakukan ambil ember buat menampung air bocor. Ya bener sih. Tapi kan tanpa memperbaiki atap yang bocor, masalahnya gak selesai. Akar masalahnya gak disentuh. Ya sama, polusi udara juga gitu.
Masalah utamanya apa? Kamu bisa nonton liputan soal polusi ini di Youtubenya Narasi, atau baca-baca berita dan pernyataan dari akademisi maupun pemerhati lingkungan. Atau laporan dari CREA (Centre for Research on Energy & Clean Air). Masalah utamanya ada tiga: PLTU (batu bara), industri, dan transportasi. In that order. Jadi jangan mau dibego-begoin sama pejabat yang bilang solusinya itu beli mobil listrik, pindah ke IKN, atau nungguin musim kemarau lewat. Itu cuma solusi-solusi gak kreatif dari manusia-manusia yang malas mikir.
Lantas, apa yang bisa dilakukan? Apakah masalah ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah peradaban dunia? Ya enggak lah. There’s nothing new under the sun. Apa yang terjadi di Jakarta hari-hari ini adalah apa yang terjadi di Beijing pada tahun 1998. Sama. Polusi tingkat tinggi yang membahayakan penduduknya. Bedanya? Beijing fokus mencari solusi.
Tahun 1998 Beijing mencanangkan perang terhadap udara kotor. Menempuh jalan panjang dan penuh perjuangan untuk memastikan udara yang dihirup warga mereka bersih dan sehat. Lewat serangkaian kebijakan, investasi, program, dan kerjasama berbagai pihak, pada 2017 mereka berhasil memenangkan perang tersebut. Hak warga untuk bisa menghirup udara bersih kembali terjamin. Udara jauh membaik. Semua intervensi dilakukan dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi, bahkan membuka lapangan pekerjaan baru di sektor lingkungan.
Beberapa kunci keberhasilan Beijing:
- Regulasi industrialisasi besar-besaran: diversifikasi industri (dan limbah), beralih ke energi bersih, insentif & kewajiban kontrol emisi.
- Kontrol ketat emisi transportasi: transportasi umum.
- Informasi dan transparansi: memungkinkan semua pihak berpartisipasi mencapai tujuan-tujuan lingkungan bersama, bukan malah saling adu dan sangkal data.
- Kerja sama semua pihak (nasional, provinsi, kota, kota-kota tetangga).
Membangun sistem manajemen kualitas udara yang efektif: Legislasi dan penegakkan hukum total; Perencanaan yang sistematis; Standar yang kuat; Kapasitas monitoring yang kuat; dan kesadaran publik yang tinggi.
Pada akhirnya, menyelesaikan polusi tidak semudah bikin indomie. Butuh resource yang tidak sedikit. Butuh waktu yang panjang. Investasi yang mahal. Perencanaan yang matang. Juga political will yang besar. Apakah kita punya itu? Nah, tanyakanlah itu pada para politisi yang sudah tidak malu-malu kucing menghiasi jalanan ibukota dengan wajah mereka. Mereka kan lagi ngemis-ngemis minta dipilih untuk ngurus negara. hehehe..
Sekian dulu tulisan kali ini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Ya itu juga kalau kita masih pada hidup. Gak keburu mati gegara sesek napas.
Tangerang Selatan, 12 Agustus 2023
Kirim Komentar!