Selamat datang di episode ke-26 Things Worth Sharing! Wah, gak berasa ya udah setengah tahun lebih saya menulis TWS. Kolom di mana saya menulis pembelajaran sepanjang minggu lewat hal yang saya lihat, dengar, dan rasakan.
SECOND LAST EPISODE OF TWS
Thank you so much for your heartfelt response after I announced that TWS and my IG subscription will come to and end! Your support and understanding means a lot to me.
Ya, seperti yang sudah saya jelaskan, ini adalah episode kedua terakhir dari TWS. Minggu depan, kita akan sampai di season finale. hehe
Saya mau berbagi beberapa hal yang bikin saya merasa gak cocok dengan Instagram Subscription, siapa tahu kan ada di antara pembaca yang sedang menimbang untuk mengaktifkannya. Setidaknya ada tiga hal yang mengesalkan saya.
Pertama, belum semua orang kebagian fitur ini. Belum semua followers bisa jadi subscribers saya di Instagram. Entah berapa kali saya dapet DM, “Mas Okki, kok saya gak bisa subscribe ya? Masuknya ke waitlist? Salah saya apa?”
MAS, KAMU GAK SALAH APA-APA KOK. IT’S NOT A YOU PROBLEM, IT’S ME!
Well, lebih tepatnya salah Mark Zuckerberg sih. Jadi, memang belum semua kebagian fitur ini. Seperti biasa, roll-out new feature could take a while. Pas broadcast channel pertama diluncurkan juga gitu, saya selama nyaris setahun cuma bisa ngiri aja teman-teman saya bisa bikin broadcast channel, sedang saya gak bisa. Ini lumayan bikin kesal karena saya gak bisa ngapa-ngapain buat nyari solusinya. Mentok-mentok, saya cuma bisa menyarankan untuk coba pakai akun lain (karena surprisingly memang serandom itu, teman saya di akun utamanya yang ribuan followers dan aktif ngepost, malah gak bisa subscribe, tapi pas dia pakai akun jualan kue dia yang gak pernah dibuka, eh malah bisa!)
Kedua, gak semua subscribers bisa join ke broadcast channel exclusivenya. Banyak yang komplain soal ini, dan lagi-lagi, saya gak bisa berbuat apa-apa. Jadinya ini lumayan ribet. Ketika share artikel misalnya, saya gak bisa cuma share di broadcast channel, karena cuma 50-60% subscribers yang ada di sana. Saya harus share ke IG Story khusus subscribers juga. Sedangkan IG Story kan cuma bertahan 24 jam, ya, gak semua subscribers selalu buka IG tiap hari juga. Ini sebenarnya salah satu alasan kenapa saya bikin TWS. Biar kurasi artikelnya bisa dibaca kapan pun oleh subscribers. Begitu juga kalau saya share konten carousell ke subscribers.
Ketiga, PR banget kasih tau ke semua subscribers. Butuh usaha ekstra ngasih tahu ke subscribers kalau ada konten feed eksklusif baru, karena: (1) gak selalu di-push sama algoritma ke subscribers, beberapa konten eksklusif yang saya lupa promosiin jor-joran, reach-nya cuma ke 20-25% dari total subscribers aja; (2) subscribers aja gak tahu bahwa ada tab khusus subscribers di profile saya; dan (3) gak ada tombol share to story, jadi saya gak bisa langsung promosiin kontennya kayak biasa, jadinya menyulitkan subscribers juga. Contoh:

Ya itu dia sejumlah alasan kenapa menurut saya IG Subscription ini kurang cocok bagi saya. Dari beberapa konten kreator lain yang subscribersnya lumayan tinggi, saya melihat pola yang sama: mereka harus promosi serajin mungkin, ke feed biasa (non-subscibers), bahwa ada subscription nih! Saya sih mager, ya. Kayak kerjaan saya kurang banyak aja… hahaha
REACHING THIRTY SIX
Beberapa hari lalu saya berulang tahun. Memasuki usia baru: tiga puluh enam. Damn! Tua amat yak, gue. Tiba-tiba udah thirty six aje. Empat tahun lagi, pas Prabowo lengser, usia saya udah 40. huhuhu. Mau bilang “I don’t want that to ever happen”, tapi ya I can’t wait juga for this circus administration to end. Galau…
Mana saya dengan tololnya iseng lagi nanya ke ChatGPT. “Orang-orang di usia 36 tahun udah pada ngapain aja sih?” Dan jawabannya, bikin saya mempertanyakan makna hidup…

BANGKE YA LU PADAAAAA!!!
Kok bisa-bisanya di usia 36, Einstein udah bikin teori yang mengubah pemahaman kita akan semesta? Atau Marie Curie yang di usia segitu udah dapet Hadiah Nobel?! Shakespeare udah nulis Hamlet, Frida Kahlo udah jadi profesor seni? Hah?! Terus JFK, Obama, dan Soekarno udah jadi pemimpin dan politisi top level? How come?!
Gibran aja di usia 36 udah jadi cawapres...
I know, I know. Comparison is the thief of joy. But still…
Ya, di satu sisi ada perasaan minder. Tapi, di sisi lain, saya juga bersyukur banget kok di usia segini diberkati banyak banget anugerah. Ya istri dan anak, ya usaha yang jalan terus, ya para sahabat yang luar biasa, juga berkat dan kesempatan lain yang tak pernah putus. I know you never even reach the age of thirty six, but thank you Jesus!
Saya yakin setiap orang punya lintasannya sendiri. Selama kita ada di jalur yang benar, dan tahu tujuan kita mau ke mana, ya buat apa sibuk membandingkan diri. Saya, sejak lulus kuliah, ya cuma punya tujuan sederhana: menikmati hidup, punya social support dan jadi social support yang baik, mencerdaskan banyak orang, dan…berguna. Sudah, sesederhana itu saja. Dan hari-hari ini, saya merasa banyak dari tujuan tersebut sudah tercapai, kok. Gak, saya gak pernah punya cita-cita bisa beli rumah yang dijual sama Rita Nasution, kok. Gak nolak, tentu, tapi bukan itu tujuan hidup saya.
Selama saya bisa menikmati waktu bagi diri sendiri (membaca, menulis, nonton film), bisa banyak menghabiskan waktu bersama keluarga (makanya saya sering banget nolak undangan dan tawaran di akhir pekan), gak ngerepotin orang lain, serta bisa bikin orang lain lebih cerdas lewat tulisan atau kelas, ya saya sudah merasa bahagia, kok.
When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you.”
Yep, setuju banget sama kalimat Lao Tzu di atas.

THE 14 YEARS OF WAIT
Beberapa hari seusai ulang tahun, saya mendapat kado yang bikin happy: tulisan saya dimuat di Harian Kompas. Sejujurnya masih agak kaget. Ini bukan kali pertama, sih, tulisan saya dimuat di Harian Kompas. Pas saya jadi mahasiswa, akhir tahun 2011, tulisan saya pertama kali dimuat di Harian Kompas. Tahun 2022 juga ada dua tulisan saya yang diterima, meski secara digital saja di web, gak masuk ke edisi cetak (setiap hari ada 6-7 Opini yang diterbitkan Harian Kompas, yang muat ke edisi cetak hanya 3-4 saja). Bulan Mei lalu, tulisan saya soal AI juga diterima, tapi ya lagi-lagi di web saja.
Makanya pas kemarin tahu ternyata tulisan saya dimuat, dan masuk ke edisi cetak, saya lumayan kaget. Gak nyangka! Pertama karena tulisannya lumayan panjang (saya kirim 1.000 kata padahal Kompas bilang maksimal 700 kata! wkwk). Kedua karena sebenarnya saya sudah siap untuk ditolak.
Lho kok gitu? Saya memang lagi mau konsisten kirim tulisan ke media lagi, salah satu alasannya ngumpulin portfolio kalau nanti mau apply beasiswa. Sebagai orang yang kerjaannya gak jelas (dosen bukan, peneliti bukan, karyawan bukan, PNS bukan, gak punya institusi bernaung tertentu pula), nyari beasiswa bukan hal yang mudah. Salah satu cara saya untuk meningkatkan kredibilitas, ya dengan menunjukkan karya. Tapi kan gak mungkin dengan nunjukkin postingan viral saya soal Taylor Swift atau Jokowi, ya. Yang ada saya dianggap shitposter doang. wkwkwk..
Jadi, ya kaget sekaligus senang saja akhirnya tulisan saya dimuat! Padahal saya sudah siap kirim 10 tulisan dan cuma 1-2 saja yang diterima. haha..
These two writings, took 14 years of wait:


Rekomendasi Bacaan
Don’t Ask Japan’s First Female Leader About Feminism – Bloomberg (Gift)
Sanae Takaichi might be first female PM of Japan. But does it means gender equality?
The Trap at 26 Federal Plaza – New York Magazine
Ibarat dipanggil buat sidang tilang, lo dateng, eh sampe sana lo dideportasi.
NBA’s Existential Crisis – WSJ (Gift)
Skandal perjudian yang mengguncang NBA.
The White House and Trump’s Wrecking Ball – The Atlantic (Gift)
Sejarah, drama, dan politik di balik renovasi “gila” Gedung Putih.
On My Last Leg – The New Yorker
A moving essay on living with illness and the body that betrayed us!
What I’d Tell a Younger Version of Myself About Having a Baby – NYT (Gift)
Tentang anak, kehamilan, dan invasi tubuh perempuan.
Clickbait Gives AI Models ‘Brain Rot’ – Gizmodo
Riset menunjukkan yang bisa brain rot bukan cuma kita, AI juga. Yeay?
Sekian TWS kali ini.
Semoga bisa membuat akhir pekanmu lebih berwarna dan seru!
Minggu, 26 Oktober 2025


Leave a reply to This Is Where It Ends – okkisutanto.com Cancel reply