Aku dan Pak Iman

AKU DAN PAK IMAN

Semua orang yang mengenal Pak Iman, pasti menyukai beliau. Mulai dari murid-muridnya, bekas murid-muridnya, hingga rekan-rekan guru di sekolahnya. Rasanya Pak Iman cocok dijadikan panutan oleh semua orang. Ibarat malaikat, ia tidak memiliki suatu kekurangan apa pun. Pintar, beriman (sebagaimana namanya), jujur, dan segala kata sifat baik-baik lainnya rasanya cocok disematkan untuk beliau. Andai ada pemilihan guru teladan tahun ini, sudah bisa dipastikan Pak Iman juara satunya, juara duanya, dan juara tiganya. Tidak ada saingan.

Hingga kini tidak pernah ada yang menyangkal karisma Pak Iman. Semua orang menghormati dan mengaguminya, begitu pula aku. Kepadanyalah aku bertanya jika kesulitan mengerjakan pe er. Kepadanyalah aku bercerita ketika mengalami kesulitan. Kepadanya juga aku belajar banyak hal. Pak Iman adalah gambaran ideal bagiku dan rekan-rekan seumuranku. Aku ingin menjadi seperti Pak Iman!

Namun semuanya berubah malam itu. Tatkala aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, hal yang mungkin tidak akan pernah kupercaya, tapi mau tak mau kupercaya. Berawal dari pertengkaran kecil dengan istrinya, ia lantas memukul istrinya. Belum puas, ia memukul lagi, menendangi, menjambak, hingga meludahi istrinya. Puncaknya ketika ia mendorong sang istri yang memberikan perlawanan. Tak sengaja, kepala sang istri terbentur sudut meja. Istrinya jatuh, terkapar, lantas tak sadarkan diri, untuk selama-lamanya.

Sejak kejadian itu semuanya berubah. Semua hal baik tentang Pak Iman terhapus dalam sekejap. Dari pujaan jadi hinaan. Ia dipecat, lantas dipenjara. Desas desusnya, Pak Iman mengalami gangguan psikologis berat, justru karena tuntutan yang ia terima dari lingkungannya. Entah apa nama gangguan itu, aku tak peduli. Yang jelas, sejak saat itu Pak Iman bukan ayahku lagi.

———————————————————————————————————–

Jakarta, 11 Maret 2010
Okki Sutanto.
(tidak ada hubungan sama sekali dengan orang bernama Pak Iman)

Ah, Aku Ingat!

AH, AKU INGAT!

Sedari bangun pagi tadi, aku tidak mampu mengingat apa pun tentang kehidupanku. Siapa namaku, apa pekerjaanku, tanggal berapa sekarang, bagaimana aku bisa ada di tempat aku bangun? Aku tidak ingat semua itu. Mungkin ini yang namanya amnesia. Dari tanda pengenal yang kutemukan, namaku adalah Astrid, kelahiran tahun 1990. Dari kalender yang terpampang di sudut kamar, sekarang tanggal 1 April 2009. Untunglah, kemampuan matematikaku tidak ikut sirna dari otak. Aku tahu aku berumur 19 tahun.

Pagi hari kuhabiskan untuk mengacak-acak seisi rumah. Entah mengapa, rumah yang tidak terlalu besar ini tidak ada orang sama sekali. Senyap. Aku enggan keluar rumah terlebih dahulu, tanpa tahu siapa sebenarnya diriku. Tidak terlalu banyak petunjuk yang aku dapatkan. Satu-satunya petunjuk, aku pernah sekolah di “SMA BAHAGIA”, terlihat dari seragam yang ada di lemari baju dan beberapa buku di dalam sebuah tas.

Berbekal pengetahuan itu, aku bergegas ke SMA tersebut. Berharap menemukan petunjuk. Entah mengapa aku ingat jalan ke sana, tidak terlalu jauh dari rumah. Sepanjang perjalanan, aku merasakan pandangan aneh dari orang-orang di sekitarku. Rasanya semua orang berusaha mengacuhkanku, tidak menganggap aku ada. Aku sih tak peduli. Anehnya, perasaan diacuhkan terasa begitu familier bagiku.

Sepuluh menit perjalanan, aku tiba di sekolah. Sepi, tidak ada orang. Aku baru ingat saat melihat kalender di kamar, hari ini hari minggu. Pintu gerbang kecil ternyata dibuka, aku memutuskan untuk menyelinap masuk. Kususuri lorong-lorong sekolah, ruang-ruang kelas, perpustakaan, kantin, hingga ruang guru. Potongan-potongan ingatan samar mulai muncul. Aku sekarang yakin sekali dulu aku bersekolah di sini.

Lama aku duduk di pinggiran lapangan sekolah, berusaha sekuat tenaga mengingat masa laluku. Ingatan yang samar itu lama kelamaan makin jelas. Aku ingat, aku dulu seorang murid yang pendiam, tidak suka bergaul, tidak menonjol di bidang apa pun, dan kerap menjadi sasaran olok-olok teman seangkatanku. Apa pun yang aku lakukan untuk mengubah keadaan, rasanya tidak pernah berhasil.

Pada tanggal 1 April 2006, mereka berusaha membuat lelucon. Aku lupa bahwa hari itu semua orang diperbolehkan menipu satu sama lain. Aku disuruh memberikan sebuah kotak bingkisan kepada salah seorang guru, katanya guru tersebut berulang tahun. Aku menurut saja, daripada dipukuli seperti biasa. Ternyata, isi kotak tersebut adalah beberapa keping film porno. Di depan ruang kelas, di hadapan banyak guru lainnya, serta murid-murid yang bersiap untuk tertawa, aku ditampar oleh guru tersebut. Nyatanya, teman-temanku tetap tertawa. Rencana mereka sukses. Ah! Tiba-tiba aku lupa kelanjutan kisah tersebut. Mungkin beban kerja otakku sudah begitu berat, berusaha mengingat banyak hal dalam waktu singkat.

Aku memutuskan untuk keluar dari sekolah dan kembali ke rumah. Tepat sebelum keluar dari sekolah, aku tiba-tiba ingin buang air. WC terdekat ada di belakang pos satpam. Aku masuk ke sana. WC ini yang paling jorok dari semua WC di sekolah. Bau , banyak kotoran, dan cat dindingnya pun sudah kusam. Hampir tidak ada orang yang menggunakan WC ini.

Hmm, rasanya aku ingat kelanjutan cerita tadi! Sehabis ditampar oleh guruku, aku berlari ke WC ini. Aku menangis, mengurung diri. Lima jam kemudian baru guru-guru menemukanku. Pintu didobrak, aku dikeluarkan dengan bantuan beberapa satpam. Pergelangan tangan kiriku bersimbah darah. Tangan kananku menggenggam pecahan kaca WC. Tubuhku mulai kaku, tak bernyawa. Ah, akhirnya aku ingat! Dulu aku bunuh diri di sini. Kali itu aku sukses. Mereka berhenti tertawa.

———————————————————————-

Jakarta, 14 Maret 2010.
Okki Sutanto
(sama sekali tidak berencana bunuh diri) 

Aku, Gitar, dan Kenangan yang terkoyak

(Cerpen ini ditulis pas kelas 3 SMA, udah pernah diposting, di blog friendster sih. haha.. Simply dicopy ke sini untuk kearsipan aja.)

Aku, Gitar, dan Kenangan yang Terkoyak!

Pandangan mata gw terpaku pada sebuah benda di sudut kamar. Sebuah gitar. Gitar itu tampak usang. Meski tidak rusak, debu yang menyelimutinya membuatnya terlihat menyedihkan. Masih gw ingat jelas, terakhir kali senar-senar gitar itu gw petik setahun yang lalu. Sekitar tiga bulan sebelum gw lulus SMA. Life was just perfect for me that time.

Waktu itu, gw lagi ngejar seorang cewek, Klara namanya, temen sekelas gw. Dia berhasil ngebuat gw berpikir bahwa tiada tempat seindah sekolah. Dia memenuhi dua standar utama kriteria cewek gw, enak gw liat, n pinter! Semua berjalan lancar, gw berhasil jadi teman cowok terdekat dia . Pernah suatu ketika gw ajak dia makan malam, kita bercerita banyak hal. Juga tentang mimpi kecilnya yang telah lama ia miliki, adanya seorang cowok menyanyikan sebuah lagu sambil bermain gitar untuknya. Ia bercerita dengan mata berseri, membuat jantung gw berdebar, sekaligus membuat gw pengen membuat mimpinya menjadi kenyataan.

Karena itulah, mulai keesokan harinya gw langsung meminjam gitar kakak gw. Gw yang sebelomnya gak memiliki ketertarikan sama sekali sama alat musik, langsung minta diajarin maen gitar sama abang gw. Sejak hari itu, setiap saat gw selalu megang tuh gitar. Abang gw yang ngeliat antusias gw, akhirnya ngasih gitarnya ke gw. Entah karena luapan inspirasi saat itu, gw berhasil ciptain satu lagu buat Klara. Gw terus mengasah kemampuan gitar gw sambil nunggu kesempatan buat mewujudkan mimpi kecil klara.

Tak lama, kesempatan datang! Ada teman sekelas gw yang ulang tahun, ia mengundang semua teman sekelas buat datang ke BBQ Party di rumahnya pada malam hari. Gw minta ijin ama tu anak minta waktu pada saat pesta, untuk menyanyikan sebuah lagu. Ia pun mengiyakan. Sepulang sekolah langsung gw persiapkan segala sesuatu. Gw sempurnain lagi lagu yang udah gw ciptain. Ga lupa gw beli juga mawar buat gw kasih ke Klara. Gw merasa, malam itu akan menjadi malam terindah dalam hidup gw.

Malam pun tiba. gw tiba di rumah teman gw yang berulang tahun. Gitar dan mawarnya gw simpan terlebih dahulu di dalam mobil, karena ingin membuat surprise. Acara makan-makan pun dimulai, mata gw ga bisa lepas dari keanggunan yang dipancarkan diri Klara. Dia yang tercantik malam itu! Gw berpikir ini momen yang tepat buat melakukan rencana gw, gw bergegas ke mobil buat ambil gitar.

Tapi sebelum sempat gw lakukan semua itu, terdengar suara sahabat karib gw berbicara di tengah keramaian, ia meminta perhatian semua hadirin, ia ingin memainkan sebuah lagu untuk mengungkapkan perasaannya kepada gebetannya. Gw tersenyum kecil, bisa-bisanya ada orang yang berpikiran sama. Akhirnya gw tunda niatgw buat menonton dia memainkan lagu The reason – Hoobastank. Saat lagunya selesai, dia manggil seorang cewek untuk maju ke depan, untuk menjawab ungkapan perasaannya itu. Sama sekali gw terlintas di pikiran gw kalo nama yang bakal dia panggil adalah Klara!. Rencana gw buat bikin kejutan batal, gw malah diberi kejutan! Sorak sorai teman-teman gw yang lain ngebuat gw risih, gw ga sabar pengen tau apa jawaban Klara. Dalam hati gw berteriak dan memohon supaya jawabannya tidak seperti yang gw bayangin. Waktu berjalan amat lambat saat itu, dunia serasa berhenti. Detik demi detik gw lalui dengan amat cemas, degupan jantung gw pun bisa gw rasain. Namun akhirnya, dengan wajah tersipu Klara mengangguk! Sorak sorai hadirin pun makin riuh. Klara dan sahabat karib gw pun berpelukan, menyatakan cerita cinta mereka berdua baru saja dimulai.

Gw hancur, dalam sekejap pijakan gw runtuh. Gw perlahan menyingkir dari kerumunan orang. Gw lanjutin apa yang tadi mao gw lakukan, yaitu ke mobil. Tapi ke mobil bukan untuk ngambil gitar dan mawar, melainkan untuk bergegas pulang. Sesampainya di rumah gw buang mawar itu dan gw lempar gitar di sudut kamar gw. Gw berjanji ga akan pernah nyentuh gitar itu lagi. Kenangan yang disimpannya pahit, teramat pahit bahkan.

Butuh waktu lama buat gw berpikir dan merenung kenapa ini harus terjadi. Masih gw ingat jelas malam itu sahabat gw girim sms yang isinya: “In war and love, everything is fine! There’s no cheater!”. Awalnya gw menganggap itu hanyalah kata-kata seorang pecundang yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri. Tapi seiring berjalannya waktu, gw mulai bisa menerima kenyataan, dan merelakan Klara untuknya. Mungkin Klara akan lebih bahagia dengannya.

Malam ini, setelah lama gw pandangi lagi gitar itu, entah mengapa kenangan-kenangan buruk itu mulai menghilang. Yang gw rasakan lagi justru kenangan indah saat Klara masih menjadi sumber kebahagiaan gw. Akhirnya, gw raih gitar itu, gw bersihin debunya pake tangan. Dan gw nyanyiin lagi lagu yang dulu gw ciptain untuk Klara. Tanpa sadar, senar-senar yang indah itu terasa licin. Basah. karna air mata.