Seharusnya Terbakar!

Cerpen I / 2011.

 

Saat lampu bioskop kembali menyala, aku hanya bisa ternganga. Entah apa dosaku, tak diragukan lagi barusan adalah film tergoblok yang pernah aku tonton sepanjang hidupku. Begitu banyak cerita dan detil di dalam film barusan yang membuat logika siapapun yang menontonnya bengkok sempurna. Sialnya, aku sendirian. Pikiranku tertelan pusaran kekaguman dan ketakjuban semua penonton lainnya.

Seorang wanita rela dijadikan vampir hanya demi seorang lelaki yang baru saja dikenalnya? Bagi mereka itu sangat menyentuh, bagiku idiot dan menyedihkan!

Seorang manusia serigala bisa mengendalikan kapanpun mereka ingin berganti wujud antara manusia dan serigala? Bagi mereka itu fleksibel, bagiku tolol dan tak berdasar!

Sekelompok vampir hidup bahagia dan menjadi siswa abadi di sebuah sekolah tanpa diketahui siapa pun? Bagi mereka itu normal, bagiku sangat menginjak nalar!

Ah, cukup sudah segala ketololan film tersebut!Salahku juga sebenarnya. Seharusnya aku sudah tahu film ini akan seperti apa, karena aku pernah membaca ulasan dari novel seri tersebut. Jauh sebelum keempat novel ini difilmkan. Andai saja Karina tidak memaksaku menonton film ini, pasti aku takkan sudi merogoh kocek sebanyak lima puluh ribu rupiah di loket bioskop ini dua jam yang lalu.

Ia membuatku tak mempunyai pilihan. Sudah terlalu sering aku menolak ajakan Karina pergi. Ia bilang aku gila, karena terlalu mencintai rumah dan kamarku sendiri. Ia bilang aku harus menonton film ini, karena aku terlalu skeptis akan hal-hal berbau mistis, khususnya vampir. Well, aku kira manusia waras manapun justru akan makin skeptis setelah menonton film ini. Setelah berhasil memojokkanku, akhirnya aku mengiyakan ajakannya untuk menonton malam ini.

Sepulang dari mengantar Karina ke rumahnya, aku pulang dan menyendiri di balkon rumahku. Sejujurnya, aku sangat suka menghabiskan waktu dengan Karina. Setiap kali Karina mengajakku pergi, dengan terpaksa aku harus menolaknya. Sangat berat memang, namun apa daya. Karina selalu enggan untuk bepergian di malam hari. Sedangkan aku tak mungkin keluar rumah di siang hari.

Aku benci sinar matahari!
Sesaat setelah cahaya matahari menyentuhku, aku akan terbakar.
Percayalah, itu yang akan terjadi pada semua vampir, termasuk aku.
Terbakar, hangus, dan lenyap selamanya dari muka bumi.
Bukan sekedar menjadi berkilauan kulitku.
Seperti di film tolol itu.

Jakarta, 6 Januari 2011
Okki Sutanto
[Sumber inspirasi: Posting Tukang Review]

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s