Mengenang WS Rendra…

Belum lama seniman fenomenal, Mbah Surip, meninggal dan dimakamkan di belakang Bengkel Teater milik penyair WS Rendra. Kamis malam kemarin (6/8), WS Rendra berpulang ke sisi-Nya dalam usia 74 tahun. Beliau meninggal karena penyakit jantung yang sudah lama dideritanya. Penyair bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra ini lahir di Solo, 7 November 1935. Dalam perjalanannya sebagai penyair, beliau dikenal sangat kritis terhadap pemerintah, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap kalangan terpinggir. Pada masa pemerintahan presiden Soeharto, ia membacakan salah satu masterpiece-nya meski sempat dilarang. Berikut masterpiece tersebut, sebuah syair berjudul: Sajak Sebatang Lisong.

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samudra.
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

Dari puisi tersebut jelas terlihat bagaimana keprihatinannya terhadap masa depan bangsa. Meski dibuat tahun 1977, hingga sekarang puisi tersebut masih relevan. Kini, penyair bersuara serak tersebut sudah tiada. Hilang sudah seorang seniman berpemikiran bebas, yang sebenarnya dibutuhkan oleh bangsa ini. Semoga beliau diterima di sisi-Nya, dan semangat perjuangannya terhadap kemajuan bangsa tetap menggelora dan diteruskan oleh kita, generasi penerusnya.

One thought on “Mengenang WS Rendra…”

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s