Smokol; Gak Berat Koq!

Ketikan Pinggir Hari Ini

Beberapa minggu terakhir buku kumpulan cerpen KOMPAS tahun 2008, ‘SMOKOL’, bersarang di tas saya. Meski setiap hari selalu saya bawa kemana-mana, nyatanya keterbatasan waktu membuat saya baru selesai membacanya hari ini. Reaksi pertama: Huff!! Kelar juga. Entah mengapa selalu ada kepuasan tersendiri setiap kali menyelesaikan membaca sebuah buku. hahaha.

Entah mengapa, sukar menemukan anak muda yang tertarik membaca buku tersebut. Mungkin sudah terlanjur ‘ngeri’, mendengar kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh KOMPAS. Padahal, cerpen-cerpen yang terdapat di buku ini cukup menarik dan tergolong enak untuk dibaca. Ceritanya pun tidak semuanya berat, meski harus diakui beberapa membutuhkan pengetahuan historis, filosofis, dan wawasan yang cukup.

Awalnya, ketika membaca PROLOG oleh Rocky Gerung, saya sempat merasa: ‘Wah, salah beli buku nih!’. Bagaimana tidak? Dari PROLOG yang hanya 13 halaman itu, rasanya tangan saya sudah keburu pegal membolak-balik kamus dan thesaurus untuk mencari arti sebuah kata (umumnya kata serapan yang langka digunakan). Namun setelah membaca satu per satu cerpennya, saya mulai kepincut juga untuk membacanya.

Ada cerita tentang seorang gastronom (ahli di bidang masakan) yang membentuk kelompok pecinta smokol (makan tanggung di antara sarapan pagi dan makan siang), yang secara berkala menikmati budaya smokol yang mereka ciptakan sendiri. Ada tema, ritual penyajian, dan pemaknaan folisofis dari setiap kesempatan mereka ber-smokol ria.

Ada pula cerita tentang kisah cinta rahasia berselimutkan konflik politik di Thailand. Panglima Pemberontak dan gembong bisnis Segitiga Emas, menjalin hubungan intim dengan seorang wanita pejuang yang amat membenci Junta. Pemaknaan Zita, sang wanita simpanan tersebut, terhadap hidup ketika sang panglima meninggal, mengalir indah dalam cerpen ‘Iblis Paris’.

Tak melulu kompleks, ada juga cerita-cerita sederhana macam ‘Kartu Pos Dari Surga’ dan ‘Merah Pekat’. Cerita pertama cukup mengharu biru menceritakan tentang seorang anak yang tiap hari merindukan kartu pos dari Ibunya, meski ternyata sang Ibu sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat. ‘Merah Pekat’ berhasil membangun ketegangan dan suasana mencekam bagi pembacanya. Dante, sang drakula kecil di cerita tersebut, memberikan pilihan pada si tokoh utama wanita, mau memilih siang atau malam? Seketika wanita tersebut memilih malam, Dante pun menjadikan wanita tersebut vampir.

Ke-15 cerpen yang ada di buku tersebut pada akhirnya bisa dinikmati terpisah, sama sekali tanpa keterkaitan. Warna berbeda dari masing-masing cerpen justru membuat buku ini semakin menarik untuk dinikmati. Mengutip kalimat di EPILOG yang ditulis Linda Christanty: ‘Tak peduli seberapa canggih gagasan si penulis, tak peduli seberapa dalam makna historis dan filosofis sang penulis, kecakapan berbahasa tetap merupakan kunci utama untuk terhubung dengan pembaca.’

Itu dia yang membuat para penulis cerpen tersebut mampu menuliskan cerpen-cerpen hebat.
Ah! Kapan kecakapan berbahasa ini bisa setara mereka. Iri rasanya melihat profil para penulis yang sudah sangat mumpuni di dunia kepenulisan. hahaha.
Kapan yah saatnya tiba?
Hmm… Pelan-pelan saja lah, Ki! =)

Jakarta, 17 Oktober 2009
Okki Sutanto
(makin terpacu untuk menulis)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s