Uang Gak Bisa Beli Kebahagiaan? Mitos!

Sebelumnya diposkan di Nota Facebook

Sekitar seminggu yang lalu, saya mampir ke Tri Store di Plaza Semanggi. Ada dua kebetulan yang mengantar saya ada di sana. Pertama, kebetulan saya sedang mencari USB Modem untuk mendukung produktivitas skripsi saya. Kedua, kebetulan hari itu saya baru ambil honor hasil “ngasong”.

Awalnya niat saya hanya sekedar survei, tidak langsung membeli. Namun, karena pelayanan yang tidak memuaskan di Tri Store tersebut, akhirnya saya beli juga USB Modem tersebut. Ya, Anda gak salah baca. Saya BELI KARENA PELAYANAN YANG TIDAK MEMUASKAN! Bukan sebaliknya. Lah, kok bisa? Tenang, akan saya ceritain kok! Tulisan ini bukan seri Harry Potter atau Twilight, yang hobi nunda cerita sampe ke sekuel selanjutnya. Tenang, akan saya ceritakan. Kalem. Woles.

Jadi, ketika saya datang dan menanyakan perihal USB MODEM keluaran Tri ke staf yang berdiri di kasir, jawaban yang saya dapat adalah begini:

“Ada kok mas, tapi harganya enam ratus tujuh puluh ribu rupiah!”

Sesaat saya terdiam menganalisa kalimat singkat tersebut. Singkat sih, tapi ada makna tersirat di kalimat itu! Emang, saya ini bukan ahli bahasa, tapi saya juga tidak bodoh-bodoh amat untuk tahu ada nada sinis dan meremehkan di kalimat tersebut. Kata “tapi” seharusnya ga dibutuhkan di kalimat itu! Kata “tapi” cuma menjelaskan bahwa menurut si mas di kasir, saya ga bakalan sanggup beli tuh USB Modem.

Parahnya, kalimat tersebut perlu diulang sekali lagi oleh mbak-mbak Customer Servicenya (pembelian ga di kasir, tapi tetep di-refer ke meja Customer Service dulu). Saat saya menanyakan hal yang sama, jawaban yang sama muncul lagi. Kata “tapi” keluar lagi.

Akhirnya, USB Modem itu pun saya beli. Bukan karena fasilitas, kecepatan, atau spesifikasi keren apa pun yang dimiliki modem itu. Saya beli modem itu sekedar ingin meredam kesal dan meruntuhkan kekurangajaran kedua oknum Tri Store tersebut saja.

Apakah saya menyesal di kemudian hari karena impulsif dalam membeli? Oh tidak! Selain karena saya menikmati fungsi riil dari modem tersebut, pembelian tersebut juga sukses membuat saya dipuaskan secara batin. Ekspresi terkejut dan sedikit malu yang dimunculkan si mbak-mbak Customer Service cukup membuat saya bahagia! Jadi, sesuai judul tulisan ini, hari itu saya berhasil mematahkan mitos bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Setidaknya hari itu, setidaknya untuk saya.

Menariknya, ternyata teman saya juga punya pengalaman serupa: diremehkan penjual. Tapi, kisah teman saya ini jauh lebih tragis dari saya. Kalau saya setidaknya masih sedikit elit: diremehkan di mal, di ruangan berAC, untuk barang yang harganya tidak murah-murah amat. Ceritanya, teman saya ini mau beli somai di pinggir jalan. Ia bertanya harga somai kalo pake telor ke abangnya. Dahsyatnya, jawaban si abang seperti ini:

Tapi kalo pake telor agak mahal mas, sembilan ribu!

Sumpah. Saya tidak kebayang seberapa kucel, dekil, atau compang-campingnya temen saya yang lagi nawar somai itu. Saya juga gak mau ngebayangin. Saat ngedenger cerita itu, saya cuma bisa ngakak. Miris sih emang ceritanya, tapi layak untuk dingakakin dulu. Dan sambil ngakak, saya berharap tidak ada lagi orang lain di luar sana yang mengalami nasib serupa, khususnya untuk barang yang lebih murah lagi. Cukuplah saya dan teman saya itu yang mengalaminya. Cukup.

Jakarta, 23 November 2011
Okki Sutanto

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s