Di Balik Kamera (1) – Sahabat Si Pemula

#Refleksi2011 – Tulisan Pertama.

Salah satu proyek menantang dan berkesan yang saya kerjakan di tahun 2011 adalah memproduksi sebuah film dokumenter. Film ini dibuat untuk media edukasi dan penyadaran masyarakat, terkait keberadaan dan potensi dari kaum difabel (penyandang disabilitas). Serunya berinteraksi dengan para penyandang disabilitas dan banyaknya pelajaran yang saya dapatkan dari proyek ini akan saya tuangkan di tulisan lain. Kali ini saya akan fokus membahas tentang pengalaman debut si pemula (segenap tim produksi, termasuk saya) selama pengerjaan film dokumenter ini.

Ada kepercayaan, seorang pemula itu biasanya diliputi keberuntungan. Anda belum pernah ke kasino? Coba saja, biasanya orang yang baru pertama kali berjudi akan beruntung. Kepercayaan ini (beginner’s luck) sayangnya tidak muncul ketika proses pengerjaan film berlangsung. Mulai dari proses pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi. Masalah demi masalah muncul, mulai dari yang memang terpikirkan, agak tidak terpikirkan, hingga yang sama sekali tidak terpikirkan. Maka, bersahabatlah kami dengan yang namanya masalah.

Saat pra-produksi, ada saja masalah yang muncul. Pembahasan skrip misalnya, harus ditempuh dengan penuh perjuangan di atas motor menerjang hujan badai, sebelum akhirnya tiba di Pondok Indah Mall yang parkirannya sama sekali tidak ramah untuk para pengendara motor pemula (baru sekali ke sana naik motor). Saat menyiapkan alat-alat syuting, kami juga harus pontang panting kesana kemari cari pinjaman dan sewa yang murah, mengingat dana produksi yang juga terbatas. Belum lagi mengumpulkan tim produksi yang rela bekerja tanpa dibayar (kecuali dengan senyum dan makan siang) di tengah kesibukan masing-masing. Belum lagi sulitnya menghubungi dan menyusun jadwal dengan para talent / pemain yang akan diambil gambarnya. Wah, pokoknya pra-produksi saja sudah cukup problematis. Ini baru pra-produksi loh! Sama sekali belum ambil gambar! Hehehe..

Selanjutnya, ketika mulai memasuki masa produksi, masalah itu udah kayak antrian audisi Indonesian Idol: ga abis-abis dan rebutan tampil di panggung. Mulai dari lokasi pengambilan gambar, yang rasanya jauh lebih menantang dari Amazing Race. Kenapa begitu? Karena semua lokasinya ada di Jakarta! Dan Jakarta itu identik dengan apa saudara-saudara? Ya betul, MACET! Percaya deh, menyelesaikan tantangan satu season Amazing Race Asia itu lebih enak daripada muterin Jakarta dari ujung ke ujung. Selain itu, sempat muncul juga masalah dengan perizinan suatu instansi, sampai-sampai supervisor proyek ini diberi wejangan sama pengurus, dan salah satu kru produksi trauma berhubungan dengan instansi itu lagi. hehe.

Ada juga perubahan-perubahan talent yang mendadak karena satu dan lain hal. Ini lumayan repot loh, ibaratnya udah syuting film Twilight bagian awal, terus tiba-tiba tokoh Jacobnya harus dihilangkan dari cerita. Bisa-bisa itu cerita jadi kayak parodinya Beauty & The Beast, judulnya jadi Beauty & The Pale. Ceritanya simpel: ada cewek cakep yang suka sama sesosok makhluk pucat yang rumahnya di tengah hutan. Awalnya nih cewek takut, tapi lama-lama jatuh cinta. Menikah. Bahagia selamanya. Tamat. Ga seru kan? Kita jadi gak tahu kalau manusia serigala itu ternyata rajin fitness. Kita juga jadi gak tahu kalau vampir itu ternyata suka pakai glitter. Beda deh jadinya. Pokoknya, perubahan talent bisa berakibat pada keseluruhan komposisi film deh.

Selepas syuting yang melelahkan, masuklah masa pasca-produksi yang gak kalah banyak masalahnya. Mulai dari kaset rekaman video yang susah banget dikonversi ke versi digitalnya, udah dikonversi pun ada aja yang korup dan rusak. Sulitnya mencari studio editing film yang terjangkau. Ribetnya cari musik untuk latar film, revisi film tiada akhir, proses subtitling yang melelahkan, sampai proses penggandaan ke keping DVD. Pokoknya, semua proses itu gak jauh dari masalah. Yah, namanya juga bersahabat dengan masalah.

Makanya, ketika akhirnya film itu berhasil diselesaikan dan digandakan ke keping-keping DVD, rasanya ada beban berat yang terangkat dari pundak. Ada kepuasan juga, meski tahu hasilnya tidaklah bisa dibilang sempurna juga. Tapi balik lagi, untuk ukuran seorang pemula, ya gak buruk-buruk amat juga. hehe. Mungkin, kalau proses ini bisa diibaratkan syuting sinetron dan saya adalah sutradaranya, sudah berkali-kali saya berteriak “CUT!”. Untungnya selama pengerjaan film ini tim produksinya hebat dan t.o.p.b.g.t. Mulai dari yang bantu-bantu hubungin talent, yang jadi cameramandan camerawoman, yang jadi sutradara, yang bantuin subtitling, yang bikin cover dan grafis, yang ngajarin menggunakan program film editing, dan banyak deh pokoknya. Semua hebat.

Kembali lagi, poin pembelajaran dari pengalaman ini adalah jangan mudah percaya pada keberuntungan seorang pemula. Yang namanya pemula, pastinya harus siap belajar banyak hal. Harus siap menghadapi masalah dan cari solusi. Dan juga, harus siap gagal. Ya namanya juga pemula, wajar lah gagal. Mending memulai dan gagal, daripada gagal untuk memulai.

 
Jakarta, 13 Desember 2011
Okki Sutanto
Catatan pengantar tentang refleksi 2011 bisa dibaca di SINI 

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s