Seorang Dosen, Sebuah Buku, dan Sejuta Cerita.

#Refleksi2011 – Tulisan Keempat.
(Sebelumnya diposkan di Nota Facebook )

Pertengahan Mei, saya mendapat kabar bahwa seminggu lagi akan diadakan pesta perpisahan kecil-kecilan untuk seorang dosen, sebut saja namanya Mas E. Ia akan berhenti menjadi pengajar tetap di fakultas saya. Mas E ini adalah salah satu dari sedikit pengajar yang mampu mengajarkan banyak hal pada muridnya, lebih dari sekedar menjabarkan materi dari buku perkuliahan. Beberapa pertemuan di kelas, diskusi di luar kelas, hingga beberapa kali bimbingan skripsi dengan beliau, membuat saya cukup terkesan dan menghormati beliau. Saya yakin, banyak di antara mahasiswanya, yang punya kesan mendalam terhadap beliau sebagaimana saya.

Mungkin sedikit terinspirasi juga dengan ending film Mr. Holland’s Opus yang saya tonton beberapa waktu sebelumnya, dimana sekumpulan murid Mr. Holland mempersembahkan simfoni terakhir untuk sang guru musik. Maka saya mengajak teman-teman mahasiswa mempersembahkan sesuatu bagi Mas E di hari perpisahan beliau, yakni sebuah buku berisi tulisan tentang kesan-pesan dan testimoni selama Mas E menjadi dosen.

Awalnya saya berpikir paling-paling hanya akan ada sepuluh tulisan yang terkumpul. Maklum, waktunya hanya sepekan untuk menghasilkan sebuah buku. Ditambah lagi menulis bukanlah kegiatan yang disukai oleh banyak mahasiswa. Tapi tak apa, sepuluh tulisan pun bukan angka yang buruk. Maka saya mulai menulis testimoni saya sendiri tentang beliau, saya publikasikan ke sebuah blog (http://a-tribute-to-eric.blogspot.com), lalu saya ajak teman-teman mahasiswa untuk ikut menulis juga. Saya ajak mereka melalui facebook, email, hingga milis mahasiswa dan alumni fakultas saya.

Ternyata, antusiasme itu menyebar dengan cukup cepat dan tak terbendung. Ada mahasiswa angkatan 2009, ada alumni angkatan 2003, ada sesama rekan dosen, hingga bekas rekan kerja yang berlomba mengirimkan ceritanya masing-masing tentang mas Eric. Hingga akhirnya, dalam seminggu terkumpullah tiga puluh tiga tulisan! Waw, ini angka yang amat fantastis buat saya. Dalam seminggu, puluhan orang mau meluangkan waktunya untuk menulis sebuah cerita. Hebatnya lagi, semua cerita tersebut dituliskan dengan apik dan tidak main-main (oke, walau ada juga yang pakai bahasa sms dan butuh banyak sekali suntingan agar Mas Eric nyaman membacanya).

Saya belajar banyak dari pengalaman menuliskan buku tersebut. Mulai dari cara berjualan ide, melakukan penyuntingan tulisan, hingga mencetak buku. Ditambah lagi, masing-masing cerita yang ditulis pun menceritakan pengalaman yang amat kaya dan patut dicerna. Ada cerita tentang pentingnya percaya dan mau mengambil kesempatan, hingga akhirnya pertemuan dengan Mas E membawa salah seorang alumni menjadi staf di organisasi PBB. Ada juga cerita tentang bagaimana Mas E mengajak kita untuk melihat ke dalam diri kita dan menghidupi archetype kita, hingga akhirnya seorang alumni bisa mengaktualisasikan dirinya menjadi relawan suatu komunitas rohani di Eropa. Ada pula cerita tentang sisi lain Mas E dari perspektif koleganya, bagaimana Mas E di luar kehidupannya sebagai pengajar ternyata seorang pecinta seni & wine, serta kritikus tanpa pandang bulu yang punya sisi humanis tinggi. Dan masih banyak lagi!

Saya amat bersyukur dan merasa beruntung karena telah dipercaya untuk membaca dan membukukan puluhan tulisan tersebut. Juga amat beruntung karena banyak sekali yang mau membantu dalam proses penulisan buku ini. Ada Anggita yang mau ikut menyunting tulisan dan mendesain layout. Ada Leo yang rela membuat desain cover buku di tengah kesibukannya. Ada Anas yang mau menyumbangkan kumpulan kutipannya untuk buku dan bersama dengan Julian juga memikirkan judul buku dalam waktu yang teramat sempit sekali. Juga tentu saja semua penulis yang sudah merelakan waktu dan tenaga untuk menghasilkan tulisannya masing-masing.

Luar biasa deh pokoknya proses pengerjaannya! Ketika buku itu berhasil dicetak dan diserahkan, ternyata Mas E amat senang menerima buku itu (http://eric-santosa.blogspot.com/2011/05/pleasant-surprise-tribute-to-friends.html). Saya pun merasa ada rasa haru sekaligus bangga yang membuncah. Bangga, karena akhirnya para mahasiswa yang dulunya rajin disampah-sampahi oleh Mas E bisa menghasilkan sesuatu yang cukup sempurna bagi Mas E.

The writers are people who consider themselves garbage while in fact from their loving hands readers may find precious diamonds. Yes. The students are indeed diamonds buried deep inside the ground. (Santosa, 2011)

Jakarta, 5 Januari 2012
Okki Sutanto
Untuk membaca buku itu silakan klik / unduh DI SINI.
 
Daftar Tulisan #Refleksi2011:
1. Merefleksikan 2011 (Sebuah Catatan Pengantar)
2. Di Balik Kamera (1) – Sahabat Si Pemula
3. Di Balik Kamera (2) – Kesempurnaan Tanpa Kesempurnaan
4. Untuk Seribu Delapan Ratus Senyuman. =)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s