Ketika Rangga dan Cinta Bertemu Kembali

Kadang, ada hal-hal yang lebih baik ditinggal begitu aja tanpa diakhiri dengan happy ending kok. Ada hal-hal yang ga butuh closure. Mungkin.

Masih ingat Ada Apa Dengan Cinta (AADC)? Ya, film Indonesia fenomenal di tahun 2002 yang mengisahkan cerita cinta Rangga dan Cinta saat SMA. Saking fenomenalnya, tujuh dari sepuluh lelaki di Indonesia berlomba-lomba memiripkan diri seperti Rangga. Gak deh, lebai. Tapi film ini beneran fenomenal. Pernah dengar kalimat ini: “Jadi salah gue? Salah temen-temen gue?”, nah itu salah satu dialog dari film ini. Pernah dengar potongan sajak “pecahkan saja piringnya biar ramai” atau “kulari ke hutan kutiba di pantai (macam ada jalan tembus)”? Nah, itu juga dipopulerkan oleh film ini. Masih ingat Melly Goeslaw pas belum “sebesar” sekarang? Nah, di masa doi masih ngurusin soundtrack film ini, doi masih kurus. Ya intinya film ini fenomenal lah.

Belum lama ini, beredar video pendek yang menceritakan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga tersebut. Dengan semua pemain utama yang sama. Dengan kontinuum waktu yang sama pula: dua belas tahun kemudian. Terlepas dari video pendek itu merupakan cara aplikasi LINE mempromosikan fitur terbarunya (Alumni), media sosial menyambut antusias kelanjutan cerita AADC tersebut.

Diceritakanlah Rangga ternyata tidak kembali ke Indonesia, namun menetap di Amerika. Suatu hari dia dapat penugasan ke Jakarta oleh kantornya dan karena itulah tiba-tiba Rangga membuka aplikasi LINE di telepon pintarnya lalu teringat akan Cinta. Seriusan ga sih, Rangga? Bagi lelaki yang udah berjanji bakal kembali dalam satu purnama, ternyata malah menetap di sana 144 purnama, dan cara yang dipilih untuk menghubungi Cinta adalah pake aplikasi pesan instan? Email kemana, email? Friendster? Myspace? Facebook? Lantas tiba-tiba mengajak bertemu. Seriusan? Setelah dua belas tahun? Gak terbersit apa Cinta mungkin udah menikah dan punya  dua anak?

Ah, pokoknya banyak sekali pertanyaan berseliweran di otak ini ketika menonton video pendek tersebut. Terlepas dari musik dan sinematografinya yang oke, tetap saja rasanya ceritanya sulit diterima akal sehat tanpa banyak bertanya-tanya.

Buat saya pribadi sih, ada baiknya sih lanjutan dari AADC ya ga usah ada. Sama halnya dengan Doraemon, yang sebentar lagi akan hadir film “penutup”nya. Pun Toy Story yang dengar-dengar akan dibuat film keempatnya setelah ditutup dengan epik di film ketiga. Memang apa salahnya sih, kalau kadang audiens dibebaskan liar dengan imajinasinya tentang kelanjutan ceritanya? Friends, misalnya, serial televisi tersukses di Amerika, yang sepuluh tahun lalu diakhiri dan tidak dibuat kelanjutan ceritanya meski mungkin banget. Kadang, ada hal-hal yang lebih baik ditinggal begitu aja tanpa diakhiri dengan happy ending kok. Ada hal-hal yang ga butuh closure. Mungkin.

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s