Kemunafikan Parlemen Kita

“Great minds think alike, small minds rarely differ.”

Saat ini kita sedang heboh, sekaligus jijik, melihat foto-foto sejumlah petinggi parlemen kita di acara kampanye pencapresan Donald Trump, sang pebisnis Amerika Serikat. Tak hanya foto, bahkan ketua DPR kita secara tegas menyatakan betapa rakyat Indonesia menyukai Trump. Seriusan gak sih? Pengamat, dan siapapun yang bisa berpikir rasional, menyayangkan pun mengutuk ketidakpantasan tersebut. Saya tidak ingin masuk ke persoalan pelanggaran kode etik yang sudah jelas terjadi. Bagi saya, ini hanya salah satu contoh nyata betapa munafik parlemen kita, dan mungkin juga kita.

Kita masih ingat betapa para politisi KMP tersebut, yang kebetulan menjadi pimpinan parlemen kita, dan juga kebetulan melakukan kebodohan di atas, menyuarakan dengan lantangnya sikap anti-asing mereka. Mereka membenci investasi asing, mereka membenci produk asing, mereka juga amat mengutuk intervensi asing dalam sebuah kampanye (dalam kasus ini jurnalis AS Alan Nairn). Tapi ya apa boleh buat, itulah cerminan kita. Kita bisa saja berkoar-koar anti bangsa asing, tapi tetap saja bertemu bule kita salah tingkah dan minta foto bareng (ya, contohnya wakil ketua DPR kita itu cengengesan ngajak selfie bule di acara Trump). Atau imam besar sebuah front yang ngakunya ngebelain Islam, yang jelas-jelas ngakunya benci Amerika Serikat, tapi koleksinya majalah Playboy dan pas konvoi naik Hummer.

Petinggi parlemen kita sedang kebingungan, menghadapi cemoohan dan sentimen negatif dari rakyatnya sendiri. Mereka mencari seribu alasan dan justifikasi agar tindakan mereka bisa dipahami, dengan alasan-alasan yang makin tidak bisa dipahami lagi. Oh itu cuma kebetulan, gak ada di agenda (padahal datang sepaket dan berpakaian resmi, termasuk lambang garuda di jas?). Oh, itu cuma mau ketemu Trump dan berterima kasih atas investasinya di Indonesia bersama Hary Tanoe (yang kebetulan pendukung KMP?). Oh, itu untuk meningkatkan hubungan dengan AS (dengan menyatakan dukungan ke salah satu calon presiden? kalo yang menang lawannya gimana ya). Oh, kan berdasarkan survei Trump ini kemungkinan menangnya besar (errr, pake lembaga survey Pilpres lalu yang salah melulu itu ya om?)

Sesungguhnya saya juga masih gak habis pikir, bagaimana proses kreatif yang berlangsung saat peristiwa tersebut terjadi. Jangan-jangan itu semua hasil dari salah tingkah dan ketidaktahuan masing-masing pihak bagaimana harus bersikap. Trump bingung, harus ngapain dengan para tamu dari parlemen kita tersebut saat sedang ada acara kampanye, jadi mau gak mau memperkenalkan mereka di podium. Setya Novanto juga bingung, harus ngomong apa di podium saat ditanya apa rakyat Indonesia suka sama Trump, jadi untuk menghargai Trump ya dia jawab iya aja. Maka terjadilah hal tersebut. Orang bodoh memang selalu punya caranya sendiri untuk saling melengkapi, loh.

Ya sudahlah, mau gimana lagi. Yang terjadi, terjadilah. Jangan-jangan memang kita ini bangsa munafik, kok, dan apa yang dilakukan pimpinan parlemen kita itu ya sebatas representasi kita-kita ini, rakyatnya.

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s