Tahun Baru, Cirebon, dan Angkutan Umum

Liburan tahun baru kemarin saya dan keluarga pergi ke Cirebon. Agak mendadak, sih. Tiket kereta saja baru beli tanggal 30 Desember, kalau gak salah, untuk tanggal 31 siangnya. Iseng-iseng saja, memang. Bermacet ria ke Puncak atau Bandung udah biasa. Berdempet-dempet nonton kembang api di Ancol atau HI, juga udah biasa. Sekali-kali deh cobain keramaian & kemeriahan tahun baru di daerah lain.

…dan ternyata kami salah.

Tahun baruan di Kota Cirebon, nyaris tidak terasa suasana dan atmosfer tahun baruan. Kami tiba naik kereta api tanggal 31 siang di Stasiun Cirebon. Hanya 12 jam menjelang pergantian tahun. Kalau di Jakarta, minimal spanduk & hiasan & keramaian rakyat sudah terlihat lah ya. Di Cirebon? Sepi. Jalanan lenggang. Hias-hiasan nyaris gak ada. Keramaian juga cuma di stasiun saja. Dan pas check-in di hotel, tapi itu juga ramai karena resepsionisnya cuma 1 sih, dan agak lamban kerjanya.

Ya sudah. Dinikmati saja lah ya. Tujuan berganti suasana toh akhirnya tercapai. hehe. Berikut sedikit cuplikan perjalanan selama tanggal 31 Desember 2015 – 2 Januari 2016 kami. Untunglah, 3 hari sudah lebih dari cukup untuk liburan dan menjelajahi Cirebon, setidaknya ke semua lokasi wisata populer.

Goa Sunyaragi tentu menjadi atraksi wajib bagi yang wisata ke Cirebon. Goa ini dinamakan sunyaragi dari kata sunyi dan raga. Artinya dulu tempat ini digunakan oleh raja / sultan dan keluarga untuk bersemedi. Kebetulan kami ke sana tanggal 31 Desember sore, sedang ada gladi resik acara malam tahun baruan. Panggungnya sih gak terlalu besar, tapi konsep amphitheater dan pemandangan latarnya patut diacungi jempol.

IMG_0117
Nah ini dia!

Oh ya, kami ke goa Sanyuragi naik angkot dari hotel. Untunglah ada angkot yang langsung ke arah sana, jadi tidak terlalu capek berganti angkot. Yang lumayan capek adalah ketika angkot yang kami naiki dari Sanyuragi ke pusat batik Trusmi menurunkan kami di tempat yang salah, sehingga kami harus lanjut naik becak, disambung jalan kaki beberapa ratus meter. Saya sih gak kasihan sama kami, tapi lebih kasihan ke abang becaknya yang harus genjot becak jauh-jauh mengangkut kami yang beratnya tidak ringan ini. Maafkan kami, pak!

Seusai puas berbelanja batik, kami makan di Empal Gentong Haji Apud, tidak jauh dari Batik Trusmi, dan sejalan ke arah kami pulang ke hotel. Setelah berjalan kaki disambung angkot disambung becak, kami pun tiba di hotel. Nah pas naik becak menuju hotel, kami melewati alun-alun Cirebon sekitar jam 8 malam, baru deh mulai terasa atmosfer tahun barunya karena warga mulai berduyun-duyun ke sana. Sayangnya kami sudah terlalu capek untuk turut bermalam tahun baruan, sehingga memilih beristirahat di hotel menikmati kembang api yang tak berhenti meledak sejak jam sepuluh malam.

***

Esoknya, 1 Januari 2016, kami memutuskan untuk menyudahi petualangan angkutan umum kami. Selain biayanya yang ternyata tidak murah juga, karena berempat dan harus berkali-kali ganti, cuaca yang tidak menentu membuat kami memilih menyewa mobil & supir. Nah, ini dia untungnya pergi ke kota yang gak ramai-ramai banget tahun barunya. Kepikiran mau sewa mobil jam 7 pagi. Googling-googling dan cari rental mobil yang bagus jam 8 pagi (setelah sarapan). Jam 9 pagi supirnya udah nongol di hotel. Tidak perlu drama-drama rental kehabisan mobil, tidak perlu lama kesana-kemari nelpon banyak rental. Sepi, kok! Berikut perjalanan kami.

IMG_0139
Gereja St. Yusuf

 

IMG_0144
Masjid Raya Cirebon

 

Sebenarnya itu cuma destinasi pertama dan terakhir kami, sih. Diawali ke gereja, ditutup ke masjid. Di tengah-tengahnya kami juga sempat ke Keraton Kasepuhan, Gedung Perjanjian Linggarjati (di Kuningan, 1 jam dari Cirebon), Empal Gentong & Nasi Jamblang Ibu Nur, pusat oleh-oleh di Kuningan & Cirebon, dan sentra batik. Semua ditempuh bersama bapak sopir dan mobil sewaan, dalam sehari. Bebas macet. Bebas keramaian.

Yah, demikianlah kira-kira perjalanan kami di Cirebon. Malamnya kami packing dan istirahat, karena besoknya kereta menuju Jakarta berangkat pukul 9 pagi. Untunglah masih sempat sarapan sereal, tahu gejrot, bubur ayam, omelet, dan lauk-pauk di hotel, lalu diantar oleh mobil hotel ke stasiun, gratis! Terima kasih Hotel Neo Samadikun Cirebon!

Setiba di stasiun Gambir, langsunglah kami disambut kemacetan akut karena Monas, Istiqlal, dan Lapangan Banteng ramai diserbu warga. Rasanya waktu tempuh Gambir ke Sunter kurang lebih sama dengan perjalanan dari Cirebon ke Kuningan. Kendaraan yang tidak bergerak, klakson yang bersambut, orang-orang yang berlalu lalang.

Ya, kami sudah kembali. Selamat tahun baru!

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s