KKP: KUTUKAN KULIAH PSIKOLOGI

Tulisan Kelima.

abednego-setio-gusti-360294
Photo by abednego setio gusti on Unsplash

 

Kalau mengikuti tulisan-tulisan sebelumnya, mungkin teman-teman jadi tertarik untuk kuliah Psikologi. Nah, semoga tulisan ini bisa mengurungkan niat tersebut. Lah? haha..

Ada sejumlah “kutukan” belajar Psikologi. Kenapa disebut kutukan? Karena hal ini bisa jadi tidak dibayangkan sebelumnya, tidak termasuk tujuan kurikulum juga, serta bisa dianggap sebagai kelemahan.

Kutukan pertama adalah semakin lama kita belajar Psikologi, semakin sulit bagi kita untuk mengutuk orang lain. Mengutuk dan menyalahkan orang lain jadi tidak semudah dulu lagi. Kita jadi terbiasa untuk melihat setiap cerita dan konflik dari dua sisi (bahkan lebih). Kita belajar mendalami motivasi dan latar belakang seseorang melakukan sesuatu. Kita terbiasa memahami dan berempati pada orang lain, seburuk apa pun tindakannya.

Dimarahin atasan tanpa sebab di kantor? Oh, mungkin dia lagi ada masalah di rumahnya lalu mencari pelampiasan amarahnya di tempat kerja. Ada klien ngeselin yang selalu punya pertanyaan bodoh? Oh mungkin pas kecil orangtuanya ga pernah hadir dalam hidupnya jadi baru bisa punya pertanyaan bodoh sekarang.

Ngeliat gubernur gelagapan ngejawab pertanyaan pembawa acara? Oh, mungkin pas remaja fase oralnya kurang terpuaskan sehingga jilat-jilat bibir mulu pas lagi ngomong. Intinya jadi susah deh membenci, di kala kita terbiasa memosisikan diri di perspektif lain. Intinya buat yang hobi dan senang membenci, menilai, dan menghakimi orang lain, ga cocok kalian itu masuk Psikologi. Nanti ga tersalurkan hobi tersebut.

Kutukan lain adalah jadi sering mempertanyakan segala sesuatu. Kadang hal-hal yang sebenarnya ga penting dan bisa jadi bukan urusan kita. Program di sekolah ini kok kurang bagus ya, ga sesuai sama tahapan perkembangan kognitifnya Piaget dan tahapan Psikososialnya Erikson. Iklan Indo Eskrim Nusantara kok gitu ya, harusnya kan zaman itu belum ada kulkas. Nah ya gitu-gitu deh pokoknya. Dari yang penting sampai ga penting, apapun yang bisa ditanyakan ya dipertanyakan.

Hobi mempertanyakan segala hal itu bisa jadi disemai dari kuatnya budaya kritis dan ilmiah di Psikologi. Maklum, sebagai ilmu yang tidak bisa dilihat dan diraba, Psikologi perlu perjuangan berat untuk bisa diakui sebagai sebuah cabang Ilmu Pengetahuan. Maka dari itu pendekatan ilmiah nan metodologis dituntut banget bagi setiap individu yang belajar Psikologi. Termasuk skeptis dan kritis pada berbagai hal.

Kutukan terakhir adalah perasaan tidak berdaya menghadapi dunia. Seringkali, kita belajar bagaimana seharusnya sesuatu itu bekerja. Namun, realita dan segala faktor semesta membuat hal itu tidak bisa dicapai. Misalnya fakta akan pentingnya cukup tidur. Kekurangan tidur (sleep deprivation) bisa berdampak buruk pada fisik dan psikis seseorang. Tapi kita juga tahu seringkali itu cuma teori belaka. Wong di saat yang sama kita belajar itu saja, dosen-dosen Psikologi berlomba kasih tugas biar mahasiswanya ga bisa tidur cukup dan tenang.

Ya setidaknya kita jadi belajar, bahwa yang tertulis di buku catatan tidaklah selalu menjadi kenyataan. Dan setiap mantan tidaklah selalu berujung ke pelaminan. Lah? Move on ngapa.

Itu kira-kira sejumlah kutukan kala belajar Psikologi. Yakin, masih minat? hehe..

Jakarta, 27 Januari 2018
Okki Sutanto

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s