Bantuan Tak Bertuan

Saya tumbuh besar di sekolah Katolik. Waktu SD, ada satu majalah Katolik untuk anak dan remaja yang sering saya baca. Namanya Majalah AMI. Ya mirip-mirip Bobo, sih. Teman bermain dan belajar. Isinya cerita-cerita Alkitab atau renungan dengan bahasa yang sederhana, yang memang didesain untuk anak SD-SMP.

Ada satu cerita yang saya baca dari majalah Ami, yang cukup berkesan. Kini ceritanya sudah sering saya dengar atau baca dari berbagai medium, sepertinya pernah juga menjadi bahan kotbah baik oleh Romo Katolik maupun Pendeta Kristen. Intinya tentang kisah seorang Kristen yang di daerahnya dilanda hujan deras berkepanjangan dan rumahnya mulai kebanjiran.

Saat air mulai meninggi, ia terus berdoa memohon pertolongan Tuhan. Kala itu masih bisa mengungsi, tetangganya pun mengajak ia mengungsi ke tempat lain. Tapi ia menolak, “Tidak usah, biar nanti Tuhan yang menyelamatkan saya.” Begitu pun ketika air makin meninggi dan ada tim penyelamat yang ingin menyelamatkan dia, dia masih membalas hal serupa. Menolak diselamatkan karena menunggu pertolongan Tuhan. Begitu terus hingga air mencapai atap dan pertolongan-pertolongan lain datang, tapi ia tetap menolak.

Hingga akhirnya air terus meninggi, ia kelaparan dan kedinginan, akhirnya meninggal. Saat di akhirat dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa engkau tidak menyelamatkanku?”. Tuhan dengan keheranan menjawab, “Aku sudah berkali-kali mencoba menyelamatkanmu dan mengirim bantuan, mulai dari tetanggamu, tim penyelamat, hingga helikopter, tapi semuanya kamu tolak!”

Begitu akhir ceritanya. Intinya orang tersebut mati konyol, karena sebenarnya Tuhan sudah mengirim bantuan tapi bantuan tersebut tak bertuan. Gagal dipahami dan diterima.

Salah satu pesan penting dari cerita tadi sebenarnya supaya kita senantiasa peka terhadap petunjuk dan bantuan Tuhan. Agar kita tidak melulu fokus berdoa tanpa berusaha. Karena doa tanpa perbuatan (termasuk mencari dan menerima pertolongan) adalah mati.

Saat kecil saya mixed feelings terhadap cerita ini. Di satu sisi saya kasihan sama si orang Kristen yang mati konyol. Di satu sisi saya kasihan dan agak bingung juga sama Tuhan. Katanya omnipotent tapi ternyata berkomunikasi dengan umatnya saja sulit. Gimana mau menyelamatkan dunia, wong nyelamatin satu orang saja belum tentu orang itu paham dan bisa ditolong.

Ya, namanya juga anak kecil. Pikirannya suka aneh-aneh. Harap dimaklumi. Ya meski sampe sekarang juga kebiasaan saya mikir aneh-aneh tetap ada sih.

Makin ke sini, saya semakin sadar bahwa memang membantu orang lain itu tidak mudah. Bagian tersulitnya kadang bukan soal bantuannya itu sendiri. Waktu, tenaga, materi, kadang urusan mudah. Yang lebih sulit adalah membuat orang yang mau dibantu itu sadar, bahwa dirinya perlu dibantu. Atau bentuk bantuannya itu yang kadang tidak masuk di nalar mereka.

Saya pernah memarahi teman yang berulang kali meminta bantuan finansial. Sekali dua kali saya bantu. Saat berkelanjutan saya tegur. Dia masih muda, berdaya, dan cerdas. Saya yakin dia bisa mandiri tanpa harus bergantung pada bantuan orang lain.

Saya juga berusaha mencari akar masalahnya, apa yang bisa dilakukan untuk memajukan usahanya, apa yang bisa saya bantu agar ia bisa berdikari. Maka setiap ia mengontak untuk meminta bantuan, saya tolak. Saya tegur dan minta agar tidak diulangi. Tapi ternyata ia merasa saya jahat karena tidak membantunya. Padahal, niatnya sebenarnya baik. Cuma “tough love” saja. Tapi, ah sudahlah. Saya tidak bermasalah juga dicap sebagai orang jahat. Spiderman sama Batman nganggur kalau dunia ini isinya orang baik semua.

Saya juga pernah berusaha menolong karyawan yang saya tahu sedang kesulitan urusan finansial. Saya berulang kali bertanya apa masalah yang ia hadapi, bagaimana saya bisa membantunya, dan apa rencana ke depannya. Tapi ia tidak mau terbuka. Selalu mengelak bahwa dirinya menghadapi masalah, merasa bahwa semua baik-baik saja.

Masalah makin membesar, saya dihubungi pinjol atas nama sang karyawan via telpon (yang tentunya pinjol ngehe peneror itu saya maki-maki dan bangsat2in balik), sampai puncaknya sang karyawan “menggelapkan” uang toko. Nominalnya memang tidak seberapa, tapi buat saya ini urusan etika dan kepercayaan. Saya masih berusaha membuatnya terbuka dan jujur apa masalah yang sedang dihadapi, tapi ia tetap mengelak. Akhirnya saya pecat dia. Bukan urusan uang yang tidak seberapa, tapi karena saya sudah tidak bisa menolong dia lagi. Semua bantuan yang saya berikan ujungnya tak bertuan.

Saya tetap mendoakan yang terbaik untuk sang karyawan. Saya nasehati tentang kejujuran dan kepercayaan. Saya tetap berikan “pesangon” untuk membantunya bertahan hidup sementara belum mendapat kerjaan baru di tengah pandemi. Saya tahu hidup sedang susah, saya tentu tidak ingin menjadi penyebab kesusahan orang lain. Sebisa mungkin saya ingin membantu, tapi kalau orangnya tidak mau menerima bantuan ya susah.

Kalau saat ini Okki kecil muncul di hadapan saya dan berkata “Gimana mau menyelamatkan dunia, wong nyelamatin satu orang saja kagak bisa?”, saya paling menjawabnya dengan senyuman. Tentu sambil keplak kepalanya dari belakang.

Gak semua orang harus menyelamatkan dunia. Gak semua orang juga harus diselamatkan. Yang terpenting, selamatkan dirimu sendiri dulu saja. Dan jangan menyusahkan orang lain. Sesekali bantu orang lain itu bagus, tapi kalau orangnya gak mau dibantu ya gak usah pusing. Bisa jadi dia sedang menunggu Tuhannya menjemputnya langsung pakai odong-odong dan menyelamatkannya dari kebanjiran.

Jakarta, 17 September 2021.

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s