Wejangan Kewongan

Saya selalu bingung kalau ada teman atau keluarga yang ingin menikah. Mesti mengucapkan apa ya? Apa ya kata-kata yang mereka butuhkan atau perlukan sebelum mengakhiri masa lajang? Akhirnya ya saya cuma bisa mendoakan semoga semua persiapannya dilancarkan. Dan agar bisa menikmati hari spesialnya nanti dengan sepenuh hati.

Ya habis kalau saya ngasih nasihat panjang-panjang, nanti dibilangnya sok tau. “Nikah aja belom kok banyak bacot”. Lah kalau yang boleh kasih nasihat cuma mereka yang sudah pernah menjalani, apa kabar Romo Katolik? Apa kabar pemuka agama yang rajin nasihatin untuk menyiapkan diri memasuki akhirat? Emang mereka udah pernah nyobain? Ya gak tahu juga sih ya.

Sekarang, saya berada di posisi sebaliknya. Menerima banyak wejangan sebelum kewongan (hari pernikahan). Mulai dari agar persiapan dilancarkan, diet biar jasnya muat (entah kenapa banyak banget yang ngomong begini, heran saya), banyak berdoa dan menenangkan diri, sampai disuruh kurang-kurangi nyinyir dan pikirkan keselamatan keluarga (nah ini saya lebih heran lagi, emang kapan saya nyinyir?).

Saya cuma bisa berterima kasih kepada setiap sahabat dan keluarga yang sudah repot-repot mendoakan yang baik-baik dan memberi wejangan penuh makna. Semua saya resapi dan maknai dengan penuh penghayatan kok, tenang saja.

Dulu saya juga suka bingung, apa ya yang harus dibilang oleh mempelai saat disalami di pelaminan oleh ratusan tamu? Kalau ngomong terima kasih doang sampai ratusan kali kok takut dikira kasir Indomaret. Kalau ngobrol panjang-panjang dengan tiap tamu juga takut nanti antriannya lebih panjang dari gerbang tol Cikampek.

Di beberapa kesempatan saat saya pergi kondangan, mempelainya berkata “Terima kasih sudah datang, cepet nyusul ya!”. Saya sendiri akan menghindari kalimat ini. Pertama-tama, kalau yang diomongin begitu lagi jomblo gimana? Nanti dia malah buru-buru nikah sama bantal guling kayak wibu kekinian, kan repot. Kedua, kalau yang diomongin gak niat-niat amat untuk nikah, gimana? Kan gak semua orang juga tujuan hidupnya menikah dan berkembangbiak ya.

Mana pun itu, ya kita hormati saja. Saya menghormati mereka yang menikah karena memang itu tujuan hidupnya, juga menghormati mereka yang memutuskan untuk tidak menikah, juga menghormati mereka yang menikah semata karena ekspektasi sosial di masyarakat marrytime kita. Semua punya jalan ninjanya masing-masing. Dan saya cuma bisa menghormati dan mendoakan yang terbaik.

Untungnya kali ini saya tidak perlu repot-repot memikirkan berkata apa ke setiap tamu. Wong saya memang tidak ngundang-ngundang. Cuma pemberkatan bersama keluarga inti saja. Paling menyapa teman dan sahabat secara online saja.

Intinya, terima kasih banyak untuk semua teman, sahabat, dan keluarga yang sudah mengucapkan dan mendoakan saya. Dari hari terdalam, saya mengucap syukur dan terima kasih sebesar-besarnya! Saya turut mendoakan yang baik-baik untuk semua sahabat dan keluarga.

Semoga kita semua diberkati kesehatan dan sukacita, kelancaran dan kemudahan dalam banyak hal, dan kekuatan untuk melewati cobaan saat hidup sedang tidak lancar dan mudah-mudah amat. Tuhan memberkati kita semua.

Bali, 21 September 2021.

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s