Kenapa Kamu Kagak Butuh Financial Influencers (Bagian Kedua)

Di tulisan sebelumnya, gue udah sampaikan tiga alasan kenapa lu kagak butuh financial influencers (finfluencers). Mulai dari cone of experience theory, segudang jargon yang cuma bikin FOMO, sampai pentingnya first principles thinking. Terima kasih, untuk semua yang sudah membagikan dan menanggapi. Ada yang setuju dan ada yang kurang setuju. Sah-sah saja. Seru kok, diskusi sehat itu.

Nah, jika ketiga alasan sebelumnya lebih ke faktor pembelajaran (kenapa belajar dari finfluencers tidak akan maksimal), di tulisan kedua ini gue akan jabarkan sejumlah alasan yang jauh lebih penting dan esensial. Kenapa blindly follow finfluencers gak sebatas unfaedah, tapi juga bisa berdampak buruk ke…. KEUANGAN lu. Yes, that ironic.

Oke, kita langsung mulai saja. Alasan KEEMPAT yang gak bosan-bosan gue sampaikan adalah: CARI DUITNYA DULU MALIIIIIIIH! Gue tau banget gak sedikit yang ngikutin finfluencers perencana atau penasihat keuangan, padahal duit mereka sendiri masih pas-pasan. Yang kalo uda tanggal tua mulai buka-buka aplikasi Pinjol ngecekin bunga dan tenornya. Gini ya, kalau duitnya aja belum ada, apa yang mau DINASEHATIN DAN DIRENCANAIN SIH?

Mendingan ya fokus dulu aja sama pengembangan diri, karir, dan usaha lu. Begitu uang lu udah ada dan perlu direncanain, tanpa lu cari-cari juga itu perencana dan penasihat keuangan bakal nyariin lu kok. Inget kan episode terakhir Squid Game? Pas Gi-Hun udah menang dan jadi super kaya? Orang bank bakal ngasih lu treatment spesial dan nawarin lu produk finansial terbaik, kok. Yang penting, ya ada duitnya dulu. Gak, gue gak nyuruh lu ikutan Squid Game ini yak.

Alasan kelima, lebih penting lagi. Pernah denger kutipan ini? “If You Are Not Paying for the Product, You Are the Product!”. Kalimat ini sering muncul ketika membicarakan media sosial. Kita gak bayar lho pake Facebook, WhatsApp, atau Instagram. Tapi tanpa sadar seringkali kita ternyata jadi “produknya”. Data kita. Privasi kita. Atensi kita. Jadi komoditas berharga yang ujungnya menghasilkan uang buat mereka. Gak ada yang gratis di dunia, bung. Semua cuma urusan barter aja.

Ini juga yang terjadi sama finfluencers. Nge-follow mereka memang sekilas tampak gratis. Tapi sebetulnya our attention is their currency. Waktu dan perhatian kita, ujungnya akan menjadi komoditas. Entah untuk mereka mempromosikan kelas-kelas mereka. Seminar mereka. Layanan mereka. Produk finansial mereka. Atau produk dan jasa finansial lainnya yang sedang mereka promosikan.

Elu nge-follow mereka biar dapat tips dan cara kaya melalui investasi dan strategi perencanaan keuangan mereka. Merekanya kaya justru dari jualan kelas dan produk-produk tadi, bukan dari investasi dan strategi perencanaan keuangan mereka. Mereka kebeli mobil, iPhone 17, sampe rumah, ya dari trading komoditas. Komoditasnya apa? Ya waktu dan atensimu, sayang~

Apakah mereka salah? Tidak. Tentu saja tidak. Sah-sah saja berprofesi sebagai influencers kok. Yang salah ya kita-kita aja, yang polos percaya bahwa mereka kaya karena strategi investasi dan pengelolaan keuangan (ya gimana gak percaya juga sih ya kalau konten mereka ngomongin itu mulu), padahal bukan itu alasan sebenarnya mereka jadi kaya.

Alasan tadi membawa kita ke alasan penting selanjutnya: “Your best interest IS NOT their business!”. Ketika kita betul-betul memiliki penasihat keuangan, maka kepentingan kita jadi prioritas mereka. Setiap keputusan dan nasihat mereka, harus berfokus ke kepentingan finansial kita. Bukan kepentingan finansial mereka.

Jika seorang penasihat keuangan punya afiliasi dengan produk atau perusahaan tertentu, mereka tetap harus netral dan terbuka pada kliennya. Jika mereka merekomendasikan produk A ke klien karena mereka akan mendapat komisi atau “kickback” dari perusahaan A, mereka harus menyampaikan hal itu sebelumnya. Biar tidak bias. Tetap independen. Dan tetap prioritas utamanya adalah kepentingan kliennya.

Hal-hal tersebut yang jarang disampaikan oleh finfluencers. Mereka tidak akan ragu merekomendasikan produk keuangan tertentu ke kamu, ya karena mereka dibayar oleh perusahaan tersebut. Apakah itu adalah keputusan finansial terbaik untukmu? Ya bodo amat, deh. Emang mereka pikirin? Ehehe..

Alasan barusan, mungkin kamu pikir sah-sah saja dan tidak bahaya. “Ya gapapa deh mereka dapet duit, namanya juga endorse!“. Nah, menormalisasi hal-hal seperti inilah yang ujungnya membuat bencana seperti Jouska bisa terjadi. Tahu dong, kasus Jouska yang bergulir dari tahun lalu dan belakangan ini pendirinya ditetapkan jadi tersangka? Saya tidak akan bahas selengkapnya di sini, nanti kepanjangan. Tapi bedah kasus ini akan saya bahas di tulisan selanjutnya.

Intinya, Jouska bukan bencana yang pertama, dan tidak akan jadi yang terakhir. Pola seperti ini sudah pernah terjadi, silakan Googling kasus Ferdi Hasan sekitar tahun 2014. Atau baca sepak terjang @ballerbusters mengekspos finfluencers ngehe yang seringkali melakukan penipuan / kejahatan finansial dengan modus “jualan mimpi” ke anak-anak muda polos. Ini ada di seluruh dunia lho ya, gak cuma terjadi di Indonesia.

Jadi, apakah tidak boleh belajar dari finfluencers? Ya suka-suka lu aja sih. Gue gak ngatur. Menurut gue, kagak perlu. Lu perlu waspada. Banget-banget. Bahkan finfluencers yang mungkin awalnya punya niat dan tujuan baik pun, bisa jadi terlena dalam pola “Finplan Curse / Trap”. Ini cuma istilah gue doang ya. Tapi polanya biasanya emang gini-gini aja. Termasuk yang terjadi pada Jouska.

Intinya, awalnya mereka mencitrakan diri sebagai orang yang pintar dan sukses berinvestasi. Ngasih-ngasih tips finansial yang gak jarang pake strategi fear-mongering. Kenapa? Ya karena laku. Lebih banyak gue bahas ini di postingan berikutnya ya, gak muat. Lalu, perlahan mereka mulai dikenal khalayak. Lalu mulai jualan produk dan menawarkan nasihat finansial mereka. Sampai mereka membentur suatu tembok bernama realita. Bahwa di dunia ini gak ada yang bisa ngecuan terus tanpa rugi.

Akhirnya, mereka mulai mencari-cari “jalan belakang” untuk bisa terus ngecuan fantastis. Yang tak jarang nyerempet-nyerempet (atau udah beneran) tindakan kriminal. Ya insider trading. Kejahatan pasar modal. Pompom saham. Penipuan. Dan lainnya. Intinya, kesempatan itu akan muncul ketika kita membiarkan. Ketika kita menormalisasi nasihat-nasihat bias dari para finfluencers yang tidak peduli-peduli amat juga sama kesehatan finansial kita.

Akhir kata, seperti kata Bang Napi, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada nit pelakunya, tapi juga karena kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Jakarta, 25 Oktober 2021

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: