Selamat Hari Guru Nasional!

Kemarin, kita baru saja memperingati Hari Guru Nasional.

Terima kasih, guru-guru luar biasa yang tanpa lelah berjuang mencerdaskan bangsa. Jasamu, sungguh tiada tara.

Kemarin saya bikin survei kecil-kecilan di Instagram tentang pengalaman berkesan dengan guru di masa sekolah. Banyak sekali jawaban menarik yang masuk! Teman-teman saya membagikan pengalaman baik pun buruk terkait guru mereka. Dari guru SD, SMP, SMA, sampai guru ngaji.

Guru itu tak jarang meninggalkan kesan yang mendalam. Ucapan pun tindakan sekecil apapun, bisa jadi berbekas dan dibawa oleh muridnya hingga bertahun setelahnya. Untuk guru-guru yang menyadari hal ini dan memilih meninggalkan kesan dan dampak positif bagi murid-muridnya: terima kasih! Dirimu sungguh pahlawan tanpa tanda jasa.

Sayangnya, tidak semua guru demikian. Ada guru-guru yang entah karena alasannya masing-masing, “gagal” memberikan dampak positif ke muridnya. Ya saya paham sih, tidak semua orang jadi guru karena panggilan. Ada yang menjadi guru karena “kecemplung”, atau karena aksesibilitas dan rasionalitas (pilihan paling masuk akal dan mudah), atau beragam faktor personal lainnya.

Intinya, ya gak masalah sih apa alasannya. Selama memang profesi itu tetap dijalankan sebaik-baiknya. Tapi, tipe-tipe guru begini yang paling saya benci dan tidak layak menerima ucapkan selamat hari guru:

GURU YANG HOBI NGASIH HUKUMAN UNFAEDAH

Pujian dan hukuman itu bagian dari proses pembelajaran, saya paham. Pavlov dengan classical conditioning dan Skinner dengan operant conditioning ngejelasin banyak tentang hal ini. Tapi tidak jarang ada guru yang emang hobi aja ngasih hukuman. Gak juntrung. Gak faedah.

Ya marah-marah. Ngasih hukuman fisik. Ngasih tugas berlebih. Ngasih tekanan psikologis. Kalau di ranah psikologi, masuknya jadi hostile agression, bukan instrumental agression. Yang sebenernya gak ada manfaatnya juga. Situ ngasih hukuman buat pembelajaran atau pelampiasan?

GURU YANG TIDAK PERCAYA SAMA MURIDNYA

“Ah, kamu kan pemalas, mana bisa berhasil.”

“Kamu kalau bego jangan banyak gaya.”

Gak sedikit guru yang merendahkan, mengecilkan, dan tanpa sadar menutup pintu pengharapan muridnya sendiri. Tidak percaya sama potensi dari muridnya sendiri. Gampang memberi vonis final pada murid yang kecerdasan dan perkembangannya dinamis. Bapak/ibuk gak mau pensiun aja jadi guru?

GURU YANG MERASA SELALU BENAR

Iya, situ lebih tua. Iya, situ mungkin lebih pintar. Iya, situ lebih dulu hidup di dunia. Tapi bukan berarti guru selalu benar. Bukan berarti guru tidak bisa salah. Tidak bisa dikoreksi apalagi dikritik.

Kalau kata Gie, guru bukan dewa dan murid bukan kerbau. Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Yak, setuju banget.

GURU YANG GILA HORMAT

Maunya dihormatin. 24/7. Monmaap situ gak mau gantiin Patung Jenderal Soedirman aja sana? Dikit-dikit kita disuruh nunduk. Salim. Sujud. Dipanggil yang mulia. Try all you want, but all you get is fear instead of respect. Makanya kalo LDK trainernya jangan Kim Jong Un. Respect is earned, not given.

GURU BANGSAT

Yang doyan ngelecehin muridnya dan ngasih trauma berkepanjangan. Semoga lu dapet azab lebih kejam dari Girl From Nowhere Season 1 Episode 1.

Udah, sekian aja tipe guru yang menurut gue gak layak dapet ucapan selamat hari guru. Gimana, setuju?

Jakarta, 26 November 2021.

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: