Bedanya Pebisnis Andal dan Pebisnis Abal-abal

Sejak kuliah, saya suka membaca tentang kisah para pebisnis andal. Bisa melalui buku biografi, artikel di internet, atau pemberitaan seputar mereka. Dari dalam negeri saya belajar banyak dari perjalanan Pak Chairul Tanjung, Oom William Soeryadjaya pendiri Astra, Bob Sadino, atau Pak Karmaka pendiri bank NISP (kini OCBS NISP). Dari luar negeri, saya banyak belajar dari perjalanan Bill Gates, Jack Ma, Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Warren Buffett, Richard Branson, sampai Ray Dallio.

Tentu bukan belajar tentang hal-hal superfisial seperti apa yang mereka makan, jam berapa mereka bangun, atau apa merk sikat gigi mereka, ya. Entah kenapa banyak sekali artikel berjenis begini. “Rahasia sukses Bill Gates ternyata bangun jam 4 buat sahur on the road!”, misalnya.

Padahal, setiap kebiasaan dan keputusan yang mereka ambil, pasti ada alasannya. Kenapa Steve Jobs dan Zuckerberg sering menggunakan pakaian yang itu-itu saja, misalnya. Dikira kalau pakai baju yang sama tiap hari lantas kita bisa otomatis sukses, padahal intinya bukan di situ. Alasan mereka melakukannya, justru seringkali terabaikan: menyimpan energi mental untuk hal-hal penting, bukan hal remeh-temeh.

Alasan dan prinsip utamanya malah jarang disentuh, padahal itu yang jauh lebih penting. Sama seperti kenapa mereka suka bangun pagi, suka membaca buku, gemar hidup sehat, dan lainnya. Bukan kebiasaannya yang penting. Tapi alasan, nilai, dan tujuannya. Hal yang prinsipil dan esensial. Bukan superfisial.

Kalau cuma fokus ke hal-hal superfisial, ujungnya kita jadi seperti meme yang pernah saya lihat di ecommurz ini:
Screenshot 2022-03-21 at 9.05.05 AM

Dari membaca banyak kisah dan perjalanan para pebisnis andal, saya belajar bahwa ada empat hal yang umumnya menjadi fokus mereka. Empat fokus ini seringkali menjadi fondasi kesuksesan mereka. Tentu empat hal ini sebatas rangkuman subjektif saya saja, jadi jangan ditelan mentah-mentah juga ya. Kamu boleh banget belajar dan menemukan hal-hal lain di luar ini.

  1. Mengembangkan Diri Sendiri
    Kebanyakan pebisnis andal, melakukan usaha ekstra untuk terus mengembangkan diri mereka. Tidak bosan menambah ilmu dan pengetahuan. Ya ikut kuliah/kelas bermutu. Ya banyak baca buku. Ya banyak ikut konferensi. Juga mencari cara-cara yang bisa membuat mereka bisa bekerja lebih produktif (bangun pagi dan bekerja fokus tanpa terdistraksi apapun, misalnya).

    Jeff Bezos aktif terlibat di konferensi TED sejak dulu, entah jadi peserta, atau pembicara.  Bill Gates kita tahu amat gemar membaca buku dan menambah wawasannya. Begitu pun Elon Musk, yang terkenal dengan pengaplikasian first principles thinking dalam setiap bisnisnya.

  2. Menyempurnakan Produk/Jasa
    Pebisnis andal tahu bahwa kompetisi bisnis itu ketat. Kalau cuma punya 1 produk andalan yang sukses, lantas berpuas diri, pasti tidak lama akan tergerus zaman. Mereka senantiasa menyempurnakan produk atau layanan mereka. Merambah bisnis baru. Untuk terus berada di depan.

    Kita bisa belajar dari Microsoft yang tiap tahun menyempurnakan sistem operasi dan aplikasi mereka, juga merambah ke bisnis cloud computing. Pun Apple dan Samsung yang tiap tahun selalu meluncurkan lini produk teranyar mereka dengan teknologi dan iterasi tercanggih. Amazon, yang awalnya cuma jualan buku, kini menjual segala macam hal. Chairul Tanjung, awalnya cuma bisnis fotokopian dan alat praktikum kedokteran gigi. Lalu membangun pabrik sepatu. Lalu kini sudah merambah ke media, bank, properti, hingga supermarket.

  3. Membangun Sistem
    Membangun perusahaan besar yang berkelanjutan, mustahil tanpa membangun sistem yang mumpuni. Para pebisnis andal, sadar akan hal ini. Mulai dari membuat SOP, mengembangan manajemen informasi perusahaan, mendesain pengembangan SDM perusahaan, sistem pengambilan keputusan, juga sistem pencatatan keuangan yang rapih hingga bisa IPO dan menjadi perusahaan publik, hingga kaderisasi serta regenerasi kepemimpinan. Dengan membangun sistem, bisnis mereka bisa terus berjalan dan berkembang meski mereka sudah tidak lagi ada di situ.

    Bill Gates sudah lama tak terlibat dalam manajerial Microsoft, namun kita tahu hingga kini Microsoft tetap berkembang pesat. Pun Apple selepas kepergian Steve Jobs. Juga Astra sepeninggalan Om Willem. Alpa membangun sistem berkelanjutan, artinya pebisnis tersebut fokusnya hanya pada jangka pendek.

  4. Mengembangkan Orang Lain
    Tidak ada perusahaan besar yang bisa tumbuh tanpa fokus pada pekerja mereka. Pertama, mereka butuh talenta terbaik untuk bisa bersaing di industri. Kedua, mereka perlu mengembangkan talenta tersebut agar bisa menjadi manajerial pun pemimpin perusahaan di kemudian hari. Di luar negeri, bisa bekerja di FAANG (Facebook, Amazon, Apple, Netflix, & Google) begitu menarik dan prestisius. Gagal menarik talenta terbaik, artinya gagal berkompetisi untuk masa depan.

    Di Indonesia, bekerja di ASTRA atau BCA tetap menjadi salah satu kebanggaan tersendiri. Juga bekerja di grup media CT Group, kerap dianggap sebagai batu loncatan terbaik karena iklim dan kesempatan belajar yang bagus. Ini tidak terlepas dari fokus para pendiri perusahaan, yang menyadari pentingnya membangun sistem MSDM yang mumpuni dan berkelanjutan. Mereka tidak ragu berinvestasi besar-besaran menciptakan sarana belajar untuk mengembangkan talenta-talenta terbaik mereka.

Begitu kurang lebih pembelajaran yang saya dapat dari para pebisnis andal, baik dalam pun luar negeri. Fokus mereka ada empat: [1] Mengembangkan Diri Sendiri; [2] Menyempurnakan Produk/Jasa; [3] Membangun Sistem; dan [4] Mengembangkan Orang Lain.

Lucunya, belakangan ini media kita sering mengglorifikasi para crazy rich lokal. Mereka-mereka yang dianggap muda, kaya, dan inspiratif. Tapi ketika kita telusuri lebih dalam sebagian dari crazy rich tadi, fokus mereka jauh dari para pebisnis andal yang saya utarakan di awal. Fokus mereka malah begini:

    • Sibuk memasarkan diri, bukan mengembangkan diri
    • Sibuk nyempurnain konten, bukan produk/jasa
    • Sibuk membangun kerajaan, bukan sistem
    • Perusahaan mereka tidak menarik talenta terbaik

Bagi saya, mereka tidak lebih dari pebisnis abal-abal. Yang bukannya sibuk mengembangkan diri, malah sibuk memasarkan diri, flexing luar biasa agar terlihat kaya dan sukses. Bukannya menyempurnakan produk/jasa, malah sibuk nyempurnain konten demi Adsense dan follower. Yang alih-alih membangun sistem berkelanjutan, malah sibuk bangun kerajaan mewah keluarga mereka sendiri. Juga sama sekali tidak berfokus menjadi perusahaan yang menarik talenta terbaik. Ya minimal sampe saat ini sih saya belum pernah denger ya jebolan LPDP pada ngantri mao jadi staf di perusahaan sang juragan atau crazy rich lainnya.

Sekian tulisan saya kali ini. Semoga sedikit mencerahkan. Dan kita bisa mulai membedakan, mana pebisnis andal, mana yang abal-abal. Fokuslah pada esensi, bukan pada sensasi.

 

Jakarta, 21 Maret 2022. 

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: