Yang Muda Yang Bercanda

Belakangan ramai soal dua anak muda yang menuai kontroversi: Sean & Wirda. Yang satu soal bacotannya yang misogonis dan seksis. Yang satu soal rekam jejak pendidikannya, aksi marah-marah bapaknya, dan segenap halu-haluan bercandanya.

Usia mereka baru 22-23 tahun. Kepotong pandemi 3 tahun ya masih masuk usia remaja lah. Menurut saya, yang tolol bukan mereka. Tapi orang-orang yang menganggap penting pendapat mereka, lebih-lebih mengagumi mereka berdua: remaja polos yang terkenal semata karena sosok bapaknya.

Will Smith dalam salah satu wawancara pernah berkata, dia juga pas usia remaja sering berbuat tolol. But we did dumb things in private. Sekarang, di era media sosial dan rekam jejak digital begitu sulit dihapus, orang-orang berbuat bodoh di ruang publik. Disebarin. Diviralin. Diabadikan. Intinya, orang-orang dewasa saat ini beruntung aja pas muda dan bodoh dulu gak ada media sosial.

Siapa sih yang gak pernah melakukan kebodohan di usia remaja hingga dewasa awal? Kemarin saya bikin survei iseng-iseng soal kebodohan semasa muda di Instagram Story, jawaban yang masuk wah banyak dan beragam banget! Ada yang bucin dan bertahan di relasi gak sehat. Ada yang mulai bisnis serampangan lalu rugi gede. Ada yang jadi militan MLM. Ada yang mutusin pasangan berkualitas cuma karena hal sepele. Ada yang menyabotase diri sendiri. Berantem. Kurang menikmati masa muda saking seriusnya. Dan masih banyak lagi.

Intinya, it’s perfectly normal to be dumb at that age. Masa-masa remaja dan dewasa awal ya masanya eksplorasi. Masanya berbuat salah. Masanya untuk “hyper-experiment the hell out of everything you do” kalau kata Mas Nadiem.

Bahkan dari kacamata hukum & psikologis pun, remaja memang lebih ditolerir untuk berbuat bodoh. Makanya sistem peradilan & hukumannya dibedakan. Antara mereka yang sudah dewasa dan belum. Karena dari kacamata sains, bagian prefrontal cortex di otak manusia, memang baru berkembang sempurna di sekitar usia 25 tahun. Bagian ini amat mengatur fungsi kontrol kognitif, mulai dari pemecahan masalah, emosi & atensi, menahan impuls sesaat, kreativitas, hingga pengambilan keputusan.

Memang komentar dan opini mereka seringkali nyebelin dan bikin emosi, saya juga paham koq. Kalau kamu aja emosi, apalagi saya. Sumbu emosi saya tuh pendek banget! Tapi kalau dipikir-pikir, ngapain juga kita terlalu menganggap serius mereka. Biarkanlah mereka berproses. Saya kalau disuruh ngeliatin postingan Friendster, Facebook atau Status BBM di usia 20-an awal, juga pasti sekarang malu sendiri. “Anjir, gue goblok amat yak!”.

But that’s all right. We learned more from the mistakes we made. Tanpa kebodohan-kebodohan di masa muda, mungkin saya gak belajar banyak dalam proses pendewasaan. Tanpa hidup yang penuh bercanda di usia remaja, mungkin baru sekarang hidup saya isinya bercanda doang. Nah, itu baru bahaya.

Kalau film legendaris Sjuman Djaya judulnya Yang Muda Yang Bercinta, menurut saya kali ini mari kita biarkan Yang Muda Yang Bercanda. Biarlah Sean & Wirda bercanda terus. Daripada udah seusia bapak mereka baru idupnya bercanda mulu, ye kan? Ehehe..

Jakarta, 18 April 2022

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: