Crypto: The Greatest Solution For A Problem That Didn’t Even Exist.

Tahun 2014, saya sempat tertarik untuk belajar soal kripto. Iseng ngulik-ngulik. Saya sempat join grup diskusinya, bikin akun di salah satu exchange, juga ikutan trading. Tiap hari ikutin berita dan perkembangan soal kripto, pantengin harga, dan pasang jangkar untuk beli & jual.

Karena lebih sibuk sama studi & bisnis, akhirnya saya gak terlalu lama ngulik kripto. Setelah 2-3 bulan saya berhenti. Lumayan sih hasilnya. Dapet cuan sekitar 20 persen dalam kurun waktu singkat. Not bad. Bisa buat makan-makan enak dan bebelian gadget.

Selepas itu saya masih ikutin grup diskusinya. Juga masih ngikutin soal kripto & blockchain secara umum. Saya memang suka aja belajar hal baru, dan saya tertarik banget untuk belajar soal kripto karena katanya “cRypTO iS tHE fUtURE!”. Tapi, tiap kali saya ingin baca-baca dan ngulik lebih jauh soal kenapa kripto ada, bagaimana blockchain bekerja, masalah apa yang bisa mereka selesaikan, saya selalu….kepentok tembok.

Bahkan hingga sekarang. Coba deh cari literatur soal bitcoin atau kripto di toko buku. Atau di sosial media dan internet. Hal yang sering banget digembar-gemborkan bukanlah teknologi dan mekanisme dari kripto itu sendiri. Bukan soal bagaimana mereka bisa menjadi solusi dari berbagai masalah. Tapi soal bagaimana kripto bisa bikin kamu kaya. Soal kenapa harga bitcoin dan mata uang kripto lainnya akan terus meningkat. Kenapa kamu gak boleh ketinggalan. Dan lain sebagainya.

Ini jauh berbeda dengan apa yang dicita-citakan oleh Satoshi Nakamoto, sang “pencipta” Bitcoin. Dalam white paper yang Satoshi tulis di Oktober 2008, sama sekali gak ada bahasan soal jadi kaya & investasi. Bitcoin dicita-citakan menjadi sistem transaksi elektronik tanpa mengandalkan institusi sentral. Ia bicara soal ownership, demokratisasi keuangan dan teknologi, kekuatan jaringan (network), hingga mekanisme teknis yang memungkinkannya.

…tapi, kenapa sekarang semua malah bahas cuan, investasi, dan jadi kaya? Gak ada satu pun cryptobro yang saya kenal, yang ngomong tentang teknologi & demokratisasi keuangan. Ketika mereka membahas kripto, yang dibahas ya metode jadi kaya dengan cepat. Dan ini terjadi di tataran global, gak cuma di Indonesia. Akhirnya apa? Ya orang-orang yang tertarik, masuk, dan terjun ke industri kripto cuma punya satu tujuan: jadi kaya.

Crypto attracts the worst kind of people. Dari kartel narkoba yang jadi punya cara transaksi baru yang tidak terlacak, hingga crypto investor, builder, juga pendiri exchange crypto yang ujungnya cuma nipu demi keuntungan pribadi mereka aja. Dari Do Kwon, Zhu Su, sampe Sam Bankman-Fried sang pendiri FTX yang baru-baru ini bangkrut dan melenyapkan miliaran dolar AS.

MELOMPAT TANPA FONDASI YANG KUAT

Kripto terlalu cepat melompat tanpa memiliki fondasi yang kuat. Bukannya fokus membuktikan keunggulannya sebagai sistem pembayaran dan transaksi digital, kripto pada akhirnya dieksploitasi oportunis untuk menjadi jalan pintas paling singkat menjadi kaya. Tanpa perlu bangun perusahaan, tanpa perlu punya bisnis model yang jelas, tanpa menyelesaikan masalah apa-apa, orang berlomba-lomba menjadi kaya melalui industri kripto.

Kripto itu spesifik lahir & berkembang di AS. Dengan isu & masalah yang spesifik dimiliki AS. Mulai dari buruknya sistem pembayaran lintas bank & sistem, hingga krisis kredit perumahan tahun 2008 yang meluluhlantakkan kepercayaan masyarakat pada institusi keuangan di AS. Kripto berusaha menjadi solusi atas dua hal tersebut: menciptakan sistem pembayaran yang efisien, cepat, dan murah, tanpa mengandalkan institusi keuangan sentral.

Masalahnya, di kebanyakan negara selain AS, masalah serupa tidak ditemukan. Di China, Alipay sudah terbukti memudahkan pembayaran dan transaksi miliaran masyarakatnya. Dari belanja online di internet hingga belanja di pasar dan lapak kaki lima. Di Indonesia, QRIS menjadi solusi yang jauh lebih baik dibandingkan apa yang bisa kripto tawarkan.

MENINGGALKAN INSTITUSI SENTRAL

Yang jadi pembeda cuma satu: ketergantungan pada institusi sentral. Kripto mencoba menghilangkan hal ini. Masalahnya, ide bahwa masyarakat modern bisa benar-benar hidup tanpa peran institusi sentral hanyalah utopia yang tidak akan pernah terwujud.

Ada alasan kenapa selama ribuan tahun peradaban, akhirnya kini kita sampai di sistem yang sekarang berjalan. Ada institusi sentral, ada sistem perbankan, dan segala peraturan & kebijakan finansial yang kita kenal. Semua tidak tercipta tiba-tiba. Tapi melalui proses sejarah yang panjang dan begitu banyak mengalami perubahan, pembelajaran, dan perbaikan. Untuk mencegah krisis, untuk meminimalisir kejahatan & penipuan, untuk memudahkan transaksi antar negara, serta memungkinkan kooperasi antar negara khususnya dalam hal ekonomi.

Tiba-tiba mau membangun ulang sistem yang dikembangkan selama berabad-abad dengan teknologi setengah matang namanya alpa sejarah dan tolol. Jika sistem & institusinya tidak sempurna, ya diperbaiki. Bukannya ditinggalkan begitu saja dan beralih ke sistem baru yang belum teruji sama sekali.

Yuval Harari dalam bukunya Sapiens juga menjelaskan bagaimana peradaban cenderung menuju ke masyarakat yang lebih terintegrasi dan tersentral. Dulu masyarakat dunia hidup terpisah, dalam ratusan ribu kelompok / sukunya masing-masing. Kini kita sudah menciptakan sistem bangsa dan negara. Dari ratusan ribu kelompok menjadi beberapa ratus negara saja. Kini pun kita terus membentuk organisasi lebih besar lagi seperti Uni Eropa, ASEAN, hingga G20, yang tujuannya memudahkan interaksi, kerja sama, dan integrasi.

Arah peradaban modern itu menuju sistem sentral yang memudahkan semua. Bukannya malah menjadi masyarakat dan entitas independen yang berdiri sendiri-sendiri sebagaimana yang dimimpikan penggiat decentralized finance (defi). Toh pada akhirnya paradox ini terjadi: penggiat kripto mau tidak mau harus bekerjasama dengan institusi sentral yang sudah ada, bahkan menciptakan institusi sentral mereka sendiri, agar bisa bertahan. Karena sejatinya decentralized world itu cuma utopia.

PARADOKS KRIPTO

Selain desentralisasi yang tersentralisasi, paradoks kedua industri kripto adalah simplifikasi yang berujung overkomplikasi. Blockchain awalnya digadang menawarkan efisiensi, kesederhanaan, dan kemudahan bertransaksi. Pada kenyataannya, lihat saja betapa rumit dan kompleksnya industri kripto saat ini.

Ada perusahaan yang fokus menciptakan aset kripto. Ada yang bergerak di bidang jual beli aset kripto (exchange). Ada perusahaan pendanaan aset kripto. Pengawasan dan keamanan kripto. Promosi kripto. Infrastruktur pembayaran kripto. Kredit kripto. Hingga perusahaan khusus untuk riset soal kripto. Terakhir Binance mengumumkan mau membuat industry recovery fund untuk membangun ulang dan menyelamatkan industri kripto. Tolol banget ini mah. Udah kejauhan dari visi awalnya.

Analoginya begini. Lu mau rumah lu aman dari maling. Bukannya pasang gembok dan CCTV yang murah dan efisien, lu malah sewa 2 satpam buat jaga rumah lu. Bayar 5 tukang buat bangun pos satpam. Rekrut 1 HR buat ngabsen dan ngejadi satpam. Juga 1 asisten buat mesenin makan siang satpamnya. Tambah 1 psikolog buat ngecek kesehatan mental satpamnya. 1 Personal Trainer untuk ngejaga kebugaran satpamnya. Gak lupa sediain 1 dokter jaga untuk memastikan satpam lu kesehatannya aman. Padahal rumah lu kecil dan PBB-nya aja masih gratis. Aman sih dari maling, tapi biaya ngegaji semua stafnya aja udah 10x cicilan KPRnya.

MASA DEPAN KRIPTO

Apakah kripto akan hilang sama sekali? Gak yakin juga saya. Kayaknya sih enggak. Ada dua alasan, yang pertama adalah sunk cost fallacy. Orang-orang yang selama ini sudah begitu percaya (juga dapat keuntungan) dari kripto tidak mudah untuk move on. Mereka sudah menghabiskan waktu, energi, dan pikiran mereka selama ini untuk kripto. Akan terasa sayang & tolol kalau tiba-tiba berbalik arah. Mereka akan melindungi ego mereka dan mempercayai sampai titik darah penghabisan bahwa mereka selama ini sudah di jalan yang benar.

Alasan kedua karena sudah begitu banyak kepentingan di dalamnya. Ada institusi-institusi keuangan dan investor (bahkan negara) yang sudah berinvestasi banyak di kripto. Mereka akan melakukan segala cara agar bisa tetap mendapat keuntungan, atau setidaknya tidak boncos-boncos banget.

Menurut saya, masa kejayaan kripto akan sulit terulang selama para pelaku industri kripto tidak fokus pada esensi dan fondasi. Selama mereka tidak membenahi sistem dan membuktikan bahwa mereka bisa menggantikan sistem finansial dan pembayaran yang sudah ada saat ini, mereka gak akan punya masa depan cerah.

Blockchain is full of potential, I agree! But then again, that’s the keyword: potential. Potensi aja tanpa digarap dengan maksimal ya gak akan kemana-mana. Dan blockchain bisa saja sebuah teknologi yang revolusioner. Tapi ingat, it’s just a tool. Ia cuma salah satu solusi, bukan satu-satunya solusi. Dunia itu dinamis. Akan selalu ada teknologi baru. Akan selalu ada solusi baru.

Jika ada satu hal yang saya pelajari dari sejumlah krisis keuangan, terlebih tech / startup winter di tahun 2022 ini, adalah soal overvaluasi. Baiknya kita menilai sesuatu berdasarkan fundamental dan keadaannya saat ini, bukan dari kemampuannya menjual harapan yang tidak menjejak pada realita. Sebagaimana yang menjadi bahan bakar industri kripto selama ini.

Sekian dulu tulisan kali ini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Jakarta, 30 November 2022

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: