Yang Saya Pelajari Sepanjang 2022

Hai hai halo! Tak terasa, sudah seminggu kita memasuki tahun 2023. Tahun yang baru. Tahun yang penuh harap sekaligus ketidakpastian. Tahun dimana kita ingin berlari kencang tapi bayang-bayang masa lalu masih terus menghantui. Gejolak geopolitik belum usai. Krisis energi masih mengkhawatirkan. Pandemi belum sepenuhnya terselesaikan.

Seperti biasa, saya ingin memulai tahun dengan melakukan refleksi. Refleksi atas perjalanan setahun kemarin. Atas pelajaran-pelajaran penting yang saya dapatkan sepanjang tahun. Ya seputar diri sendiri, bisnis, pun kehidupan.

1. BELAJAR FOKUS

Tahun 2022 kemarin saya banyak belajar soal fokus. Memang 1-2 tahun belakangan saya sedang belajar untuk bisa lebih fokus. Percayalah, bagi orang yang amat mudah terdistraksi dan banyak sekali maunya kayak saya (undiagnosed ADHD, lol), fokus itu bukan perihal mudah. Nemu hal menarik dikit, saya kulik. Ada bacaan atau tontonan seru, pasti saya ikutin. Ada tawaran kerjaan menarik, maunya saya iya-in semua. Akhirnya, jadi kurang terarah dan fokusnya mudah terpecah.

Untungnya saya belajar banyak dari buku FLOW & EFFORTLESS. Yang amat membantu saya untuk mengubah mindset dan memulai untuk hidup lebih fokus. Di bisnis, saya fokus ke rental. Segala daya dan upaya serta sumber daya saya arahkan ke divisi rental. Hingga akhirnya, jumlah transaksi rental bisnis saya meningkat berkali lipat dibanding tahun 2021. Selain cuannya lebih tinggi (dibanding jualan atau servis), rental lebih stabil dan jangka panjang. Dengan klien yang terus melakukan recurring orders. Semoga di tahun 2023 ini makin banyak klien yang bisa terbantu dengan layanan rental Mac dari Supermac Jakarta.

Selain bisnis, fokus lain yang saya lakukan adalah menulis. Di 2021, selain menulis dan ngonten, saya juga sibuk bikin podcast, IG Live lah, proyek dan aktivitas ini itu lah. Di 2022, saya lebih fokus menulis. Hasilnya lumayan. Saya bisa menghasilkan 26 tulisan di blog, 25 edisi nawala, 2 artikel opini di Kompas, dan entah berapa banyak IG Story. Bahkan sampai dapat kerjaan copywriting dari salah satu perusahaan. Juga tawaran mengisi kelas menulis dari sejumlah institusi. Kuncinya ya satu: fokus.

2. CREATING HABITS > CREATING GOALS

Jika ada yang saya pelajari dari buku-buku self-help dan artikel-artikel produktivitas yang saya baca, ya ini. Membuat kebiasaan dan rutinitas, jauh lebih penting daripada bikin target atau resolusi. Punya gol saja tidak cukup. Mau targetmu semudah apapun, tanpa membuat peta jalan berupa rutinitas yang bisa dijalani dengan konsisten, ya susah.

“We overestimated what we can do in a day, but underestimated what we can do in a year”, adalah kalimat favorit saya dari Sahil Bloom. Mau fokus nulis? Ya bangun habitnya. Atur jam-jam tertentu yang paling produktif buat kita. Siapkan tempat kerjanya. Buat senyaman dan sekondusif mungkin. Hilangkan distraksi. Dengan memikirkan hal-hal ini, percayalah jalannya akan jauh lebih mudah. Saya sendiri luangkan waktu 1-2 jam di pagi hari untuk menulis dan riset. Juga siapkan waktu beberapa jam di akhir pekan untuk menulis nawala. Akhirnya, ya bisa lebih konsisten. Harapannya di tahun ini bisa lebih konsisten lagi.

3. BELAJAR JADI “INFLUENCERS”

Sebenarnya saya gak pernah menganggap diri sebagai influencers ya. Whatever the hell that means. Gak ada niatan jadi pemengaruh siapa-siapa juga karena saya tahu saya ini lebih banyak pengaruh buruknya ketimbang baiknya. wkwk

Tapi, ada momen-momen dimana tulisan atau konten saya lumayan rame. Ya di Instagram pun di Twitter. Followers saya di Instagram juga tumbuh berkali-kali lipat. Dari cuma 1.700 di Januari 2022, kini di kisaran 6.300 di Januari 2023. Memang bukan angka yang gimana-gimana banget, tapi buat saya ini aja udah lumayan bikin kewalahan. Kadang DM-DM yang masuk buanyak banget. Tapi sebisa mungkin selalu saya coba luangkan waktu untuk balas.

Makanya saya gak ada niatan juga melakukan “growth hack” dengan kolab sana sini apalagi ngiklan. Lebih baik tumbuh organik aja karena emang angka tidak pernah jadi tujuan saya. Lebih enak tumbuh pelan-pelan, nambah teman sedikit demi sedikit, biar relasi dan silaturahminya bisa terjalin lebih enak. Saya followers segini aja udah agak kewalahan balesin DM, gak kebayang kalo followers sampe puluhan ribu. Bisa sixpack kali jempol saya.

Dan yang paling seru dari pertumbuhan akun, bukanlah soal uang atau faktor komersil. Tapi jadi punya banyak teman baru. Dari dokter di pedalaman, PMI di Hong Kong, politisi, mahasiswa dari kampus dalam dan luar negeri, komedian, agen asuransi, dosen, penulis dan jurnalis, politisi, founders startup, sampai artis, musisi, juga Puteri Indonesia. Bisa ngobrol-ngobrol santai sama banyak orang dari beragam latar belakang itu nambah wawasan dan insights yang seru banget lho!

Selain itu, saya juga bisa membantu makin banyak orang. Ya dengan memberi rekomendasi buku, tontonan, sampai kursus. Ya bantu promosiin usaha teman. To help people get connected through networking. Sampai membantu menjawab pertanyaan dari seorang follower seputar urusan properti. Udah kayak kokoh-kokoh Raywhite gak tuh saya. :’)

4. BELAJAR SABAR (menghadapi birokrasi di Indonesia)

Sepanjang tahun lalu saya juga banyak belajar soal sabar. Khususnya kala harus menjalani birokrasi di empat institusi berbeda. Ya di Dukcapil ngurus Surat Nikah. Ngurus sertifikasi halal buat bisnis keluarga. Ngelaporin penipu ke Polres. Juga ngurus perpanjangan paspor ke Imigrasi.

Percayalah, the experience will humble you. Meski sebagian udah mulai bermigrasi ke digital dan pakai aplikasi, tapi aplikasinya yaoloh bikin emosi. Juga bisa lost in the system. Saya ngurus sertifikat halal dari awal tahun, kelarnya jelang piala dunia. Ngelaporin penipu ke polisi pun meski semua bukti-bukti jelas dan lengkap, ternyata menaikkan penyelidikan ke penyidikan dan ke status tersangka tidak semudah itu Ferguso. Jadi inget sama omongannya Alvin Lim, deh. hehehe

5. BELAJAR KECEWA DAN BELAJAR SANTUY MENGHADAPI KRITIKAN

Untuk dua hal ini sudah saya tuangkan di 2 tulisan ini. Kalau tertarik, silakan baca. Soal belajar mengelola rasa kecewa. Juga belajar menghadapi kritikan dan haters.

Khusus yang terakhir, banyak yang suka salah paham. Dikira artinya haters gak perlu ditanggapi sama sekali. Bukan, poinnya bukan itu. Tapi don’t let them get under your skin. Saya malah senang kalau di postingan saya ada hater. Biasanya saya balesin terus. Kenapa? Biar algoritmanya naik dan postingannya makin ramai. Jangan sia-siakan kesempatan itu mameeeen. Mereka udah capek-capek bikin akun bodong buat ninggalin komen goblok di akun kita. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya. Use them for our advantage.

Begitulah kurang lebih pelajaran-pelajaran yang saya dapaktan sepanjang tahun 2022. Belajar fokus. Belajar bikin habit dan konsisten. Belajar jadi influencers. Belajar sabar. Sampai belajar kecewa dan belajar santuy menghadapi kritikan.

Kamu sendiri, belajar apa tahun lalu?

Jakarta, 7 Januari 2023

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: