Bening dan Bulan

Bening dan Bulan

Meski dengan cahaya pinjaman, bulan selalu ikhlas menjalankan pekerjaannya saban malam. Ia yang paling tahu betapa malam bisa menyiksa. Ia yang paling sadar seberapa sengsaranya gelap. Mungkin karena itu pula, malam ini Bulan tetap bersemangat menerangi dunia. Menerangi malam seorang gadis kecil di bawah sana, yang sedari tadi melamun ke arahnya.

Bening menopangkan dagu di jendela kamarnya. Lampu kamarnya sengaja ia matikan, biar ia bisa lebih menikmati cahaya bulan yang sedang ia pandangi. Lampu-lampu lain di rumahnya menyala terang, meski tidak tampak ada aktivitas apa pun di rumah itu. Tak lama, lamunannya terhenti karena suara deru mesin mobil. Ayah pulang. Bening pun berlari keluar rumah menyambut ayah.

“Kok ayah pulang malam sekali sih?”

“Iya, tadi ada pasien yang harus dioperasi. Jadi tidak bisa ayah tinggal. Bening kenapa belum tidur?”

“Sedang tidak bisa tidur, sekalian saja menunggu ayah pulang”

“Wah.. Anak baik. Tolong bawakan tas ayah ke ruang kerja ya, ayah mau makan dulu. Bening sudah makan kan?”

“Sudah kok. Oke yah, sini Bening bawakan.”

Bening pun berlari riang ke ruang kerja ayahnya. Ini dia yang ia nantikan, sedikit kehangatan bersama ayah. Sedikit kebersamaan bersama orangtua. Sejak kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah, otomatis kehangatan semacam itu hanya menjadi mimpi di siang bolong saja bagi Bening. Untungnya, mimpi itu kadang bisa ia lamunkan. Bisa ia imajinasikan.

Terlebih ketika melihat teman-teman di sekolahnya selalu diantar jemput oleh orangtua masing-masing, berlibur bersama setiap akhir pekan. Ini yang membuat Bening semakin sering melamun, baik di rumah maupun di sekolah. Juga sepanjang jarak di antara kedua tempat itu. Jarak yang bisa ditempuh hanya dalam lima belas menit berjalan kaki. Jarak yang seharusnya tidak melelahkan. Tapi setiap hari harus Bening tempuh, sendirian. Dan nyatanya itu sangat menyiksa.

Tadi siang, Guru Bahasa Indonesia memberikan semua murid sebuah buku dongeng. Buku itu harus dibaca, untuk kemudian masing-masing menceritakan ulang di depan kelas. Bening pun mendapat satu buku. Buku ini yang kemudian ingin ia jadikan alasan untuk menghabiskan waktu bersama ayahnya: Dongeng sebelum tidur. Untuk itulah Bening sengaja menunggu ayahnya pulang. Sehabis makan malam, Bening akan meminta ayahnya membacakan buku itu untuk mengantarkan Bening tidur.

Sebenarnya ia sendiri belum yakin ayahnya akan mengiyakan. Ajakan piknik, ajakan ke taman hiburan, ajakan ke toko buku, hingga permintaan untuk dijemput di sekolah, selalu saja ditolak dengan halus oleh ayah. “Rumah sakit ayah kekurangan dokter, sehingga banyak sekali pasien yang harus diperhatikan oleh ayah. Ayah belum bisa mencari waktu kosong. Bening sabar ya. Ini semua ayah lakukan demi Bening. Bening bisa mengerti kan?” Rasanya, kalimat itu sedemikian akrabnya di telinga Bening. Seakan terhipnotis, Bening selalu saja mengangguk selepas kalimat itu ayah katakan. Anggukan tanpa tenaga, tapi penuh kegetiran.

Meski begitu, kali ini Bening berharap banyak. Hanya sepuluh menit. Sekedar membacakan dongeng dari samping ranjang. Sekejap saja, kebersamaan antara ayah dan anak. Di mana ruang dan waktu hanya milik mereka berdua. Tanpa harus ada telepon, sms, atau apa pun yang memaksa ayahnya menduakan Bening dengan pekerjaan. Titik. Apakah mimpi Bening terlalu tinggi? Entahlah.

Bening membuka pintu ruang kerja ayahnya. Ia meletakkan tas ayahnya di meja. Sejurus kemudian ia melesat turun ke kamarnya, mengambil buku dongeng. Lalu ia pergi ke ruang makan. Duduk. Ia menemukan secarik kertas di tengah meja: “Bening, barusan ada telepon dari rumah sakit. Ada pasien darurat. Ayah harus ke rumah sakit. Kamu tidur saja ya, sudah malam. Sampai jumpa besok. Salam sayang, Ayah.”

Bening bisa merasakan betapa terburu-burunya ayah saat menulis catatan itu. Bening bisa memahami ayah. Dengan langkah gontai, Bening kembali ke kamarnya. Ia kembali melamun di jendela kamarnya, sembari menatap bulan. Dalam hatinya Bening berharap bulan bisa menggantikan ayahnya membacakan buku untuknya. Dalam hatinya Bening bertanya, “Bulan mau kan?”

Bulan bisa mendengar harapan Bening. Namun bulan tidak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Bulan hanya bisa bersedih. Kesedihannya ia tularkan pada kawan-kawannya. Langit menangis. Bintang sesenggukan. Angin pun meraung pilu. Tapi semuanya hanya penyanyi latar. Rintihan hati Bening tetap penyanyi utamanya. Dari balik selimut, tanpa suara…

Jakarta, 8 Juni 2010
Okki Sutanto
(ikut menjadi penyanyi latar)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s