Suatu Sore di Sebuah Kafe

Suatu Sore di Sebuah Kafe.

Siang baru saja beranjak. Kafe itu sepi, hanya ada dua atau tiga meja yang terisi. Sudah setengah jam aku duduk, ditemani sebungkus rokok. Asbak di mejaku sudah kotor, setidaknya lima puntung sudah berguguran di sana. Memang, aku janji bertemu dengan seseorang di sini jam 5. Tapi sudah jadi kebiasaanku untuk datang setengah jam lebih awal, terlebih di pertemuan sepenting ini.

Tepat pukul 5 ia datang. Tanpa banyak berbicara, ia langsung duduk di hadapanku. Sapaan ringan yang dulu selalu ada, kini tiada lagi. Dalam sekejap suasana berubah. Udara mulai terasa berat. Aku paksakan menebarkan senyum, meski nyatanya tak banyak berguna. Kuputuskan untuk menunggu saja, toh ia yang merencanakan pertemuan ini, setelah sekian lama.

Beberapa menit kemudian keheningan itu ia pecahkan juga, “Fal, kamu tahu kan kenapa aku ngajak ketemuan?”

“Mungkin.”, jawabku singkat.

“Tiga bulan ini adalah saat yang paling berat untukku. Hidup tanpa komunikasi denganmu ternyata sangat sulit. Kamu tahu kan rasanya? Kamu juga kesulitan kan?”

“Ya.. kurang lebih begitu.”

“Lalu, kamu berubah pikiran?”

“Tidak.”, jawabku tegas.

“Fal, kamu tahu kan aku mencintaimu? Masih fal! Tidak berubah sejak dua tahun lalu. Kau masih ingat kan, semua kenangan kita itu? Lalu, kenapa masih bersikeras mengambil keputusan itu?”

“Kau tahu alasannya, Vi..”

Suasana kembali membeku. Kau berpikir keras, mungkin berusaha menyusun kalimat-kalimat yang sesaat lagi akan kau hujamkan padaku. Aku hanya menunggu, sambil menikmati kepulan asap dari kerongkonganku sendiri. Aku pandangi sosokmu yang sedang berpikir keras. Tak berubah Vi, masih sama seperti dulu. Masih mengagumkan. Aku pun masih mencintaimu. Tapi kadang cinta saja tidak cukup. Aku yakin kau tahu itu. Aku yakin nalarmu menerima keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita. Mungkin hatimu masih enggan.

Kulihat kerut di keningmu sudah hilang. Tandanya kau sudah berhenti berfikir, Vi. Kudengar beberapa kali kau hembuskan nafas panjang, kepasrahankah? Aku masih nenerka. Pandanganmu mulai kosong. Mungkin letih? Aku hanya menerka. Lantas aku mendengar suaramu, meski tak lagi selantang tadi:

“Kenapa Fal?…. Karena aku Jawa dan kau Cina?”

“Bukan itu.”

“Karena kau tinggal di perumahan elit dan aku tidak?”

“Juga bukan itu.”

“Atau karena kau suka lagu-lagu Rock, sedang aku Jazz?

“Bukan itu, Vi.”

“Atau karena kita berdoa pada Tuhan yang berbeda?”

“Itu tak penting bagiku Vi. Sudah lama Tuhan aku buang dari kosa kata hidupku Vi. Ia terlalu suci, bahkan untuk sekedar kuucapkan.”

“Lalu apa, Fal??! Apa??!”, tanyamu lagi sambil menahan emosi yang mulai memuncak.

“Kau tahu Vi, sungguh. Akui saja….”

Kau beranjak dari tempat dudukmu. Aku lihat matamu mulai kesusahan menahan air mata. Kau keluar dari kafe, tanpa pamit padaku. Kuharap kau tidak kembali lagi Vi, baik ke kafe ini maupun kehidupanku. Kau tahu, bukan segala perbedaan itu yang membuat ini semua sulit. Segala perbedaan itu, aku yakin bisa kita atasi bersama. Masalah kita hanya satu, dan bukan tentang perbedaan. Justru sebaliknya. Hanya satu persamaan kita Vi, tapi fatal. Kau terlahir sebagai lelaki. Aku pun begitu.

Jakarta, 15 Juni 2010
Okki Sutanto
(sama sekali tak berpretensi melakukan justifikasi)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s