Andai Gelas Itu Tidak Tumpah

Jika Andre tidak menumpahkan gelas ke kemeja Bob, mungkin Bob tidak perlu mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum ke kantor. Mungkin Bob juga tidak perlu ngebut agar tiba tepat waktu di kantor. Apa daya, karena telat Bob mengebut tanpa peduli keselamatan pengendara lain. Hal ini membuat Charlie kesal, dan ikut terpancing untuk ngebut juga. Tidak sengaja, mobil Charlie menyerempet motor Dhani. Tidak parah memang, tapi cukup untuk membuat Dhani telat mengantarkan barang ke klien hari itu: Evan.

Evan pun marah, karena paket barang yang harusnya ia terima pukul 11, molor menjadi pukul 12. Ia jadi harus merombak ulang jadwal pengiriman barang tersebut ke pembeli-pembeli lainnya. Saking sibuknya, Evan lupa untuk menjemput anaknya, Fina, yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Fina terpaksa bermain sendiri setelah jam sekolah berakhir. Bu Ghea, yang melihat hal tersebut, memutuskan untuk menemani Fina sampai ia dijemput. Akhirnya pukul 2 Fina baru dijemput. Bu Ghea pun baru bergegas pulang ke rumahnya, naik kendaraan umum.

Andai Bu Ghea tidak naik metromini pukul 3, mungkin ia tidak harus bertemu dengan Herman, sang pencopet. Namun tepat sebelum Herman turun dari metromini, Bu Ghea sadar dompetnya sudah dicopet, hingga ia meneriakkan copet ke arah Herman. Herman pun panik, tapi ia berhasil kabur karena di samping metromini kawannya sudah menunggu dengan sepeda motor. Untunglah Ismet, seorang polisi, sedang berpatroli di dekat situ. Adegan kejar-kejaran antara copet dan polisi itu pun tidak terelakkan. Kemacetan terjadi karena banyak yang ingin melihat kejadian seru tersebut. Banyak yang merasa kejadian itu menarik, kecuali James, yang hanya bisa menyumpah serapahi kemacetan yang di sore hari itu. Meeting penting bersama klien pukul 5 pun tidak bisa ia tepati. Seluruh persiapan yang sudah dibuatnya menjadi sia-sia.

Di saat yang tidak pas itu, istrinya menelepon, sekadar untuk menanyakan kabar. James tanpa berpikir panjang melampiaskan kekesalannya ke sang istri. Ia membawa-bawa segala urusan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kegagalannya bertemu dengan klien. Karina, sang istri, sangat terpukul. Ia pun menelepon Lina, anaknya, untuk cepat-cepat pulang ke rumah dan menemaninya. Lina yang bisa merasakan kesedihan ibunya, langsung memutuskan untuk pulang dari rumah Mentari, sahabatnya.

Mentari, yang sebelumnya berencana ke toko buku bersama Lina, akhirnya minta diantar oleh kakaknya, Nando. Nando pun mengiyakan permintaan adiknya tersebut. Mana ia sangka di saat yang sama, Oktavia, sang pacar, minta ditemani ke mal. Nando pun dengan halus menolak ajakan tersebut. Oktavia marah, ia merasa Nando selalu saja beralasan dan tidak pernah perhatian padanya. Ia memutuskan telepon, lalu menangis di kamar. Ia tidak memberi makan Pingki, kucing liar yang suka tidur di depan pagar rumahnya. Pingki pun mencari makan di tempat sampah, di mana seekor kucing liar lainnya juga sedang mencari makan, sebutlah kucing liar tak bernama itu: “Q”. Pingki dan Q berebut makanan, mereka pun saling cakar. Risa, anak kecil yang kebetulan melihat kejadian tersebut, mencoba menyiram keduanya dengan air agar tidak saling cakar. Kedua kucing tersebut kaget dan justru mencakar tangan Risa.

Risa pulang ke rumah dengan tangan berdarah. Ia langsung menelepon Ibunya, Safiah, yang sedang lembur di pabrik. Ibunya panik mendengar anak kesayangannya itu menangis. Safiah langsung memutuskan untuk pulang. Ia lupa mematikan panel listrik di bagian pengepakan. Padahal kapasitas listrik di pabrik itu terbatas, sehingga masing-masing bagian harus bergantian memakainya. Saat Taksono, pegawai bagian Produksi menyalakan panel listrik, terjadilah korsleting. Kebetulan, api bermula di sekitar gudang. Kebetulan pula, saat itu banyak material mudah terbakar sedang disimpan di gudang. Dalam waktu 1 jam, pabrik tersebut ludes dimakan si jago merah. Safiah sama sekali tidak sadar bahwa ia yang menyebabkan itu semua. Ia justru merasa beruntung, sedang tidak di pabrik saat kejadian itu terjadi. Ia menganggap Risa telah menyelamatkan nyawanya.

Safiah tidak perlu memikirkan kerugian yang ditanggung pabriknya. Ia tak perlu memikirkan nasib puluhan karyawan yang meninggal karena kebakaran tersebut. Mungkin memang itu bukan salah Safiah. Mungkin kejadian ini memang sudah ditakdirkan.

Atau, mungkin juga tidak. Tiada yang tahu.

Yang jelas, andai saja Andre tidak menumpahkan gelas pagi ini, kebakaran malam ini belum tentu terjadi.
Jakarta, 20 Juni 2010
Okki Sutanto
(sedikit banyak terinspirasi dari film Benjamin Button)

 

One thought on “Andai Gelas Itu Tidak Tumpah”

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s