Ternyata Bukan Mesin Waktu

Catatan Pribadi
#Tulisan kelimabelas, hari keempatbelas.

Hari ini saya berkunjung ke sebuah SMP di bilangan Gambir. Saya menemani beberapa teman saya melakukan assessment ke siswa/i, juga membantu melakukan wawancara terhadap beberapa guru. Kami datang dari sekitar pukul sebelas, selesai sekitar pukul tiga sore. Assessment-nya berlangsung lancar, baik ke siswa-siswi SMP maupun ke gurunya, sekaligus juga assessment ke tukang jajanan di depan sekolahnya. hehehe..

Awalnya teman saya yang mengajak membeli cimol. Lantas kami berlima jadi bernostalgia ngobrolin jajanan masa SD. Mulai dari cireng sampai cimol. Mulai dari es-teh-plastikan-lima-ratus-perak sampai telor-dadar-bulet-kecil-kecil. Ternyata di sebuah pelosok kota Jakarta, jajanan itu masih saja ada. Masih saja bertahan di tengah serbuan jajanan modern. Masih saja tersisa untuk menyalurkan hasrat jajan anak-anak sekolahan.

Kami tahu sih, jajanan tersebut tidak sehat. Mulai dari minyak gorengnya yang entah sudah dipakai berapa kali. Juga kandungannya yang sebagian besar cuma tepung. Sampai ke saosnya yang entah sudah di-isi-ulang berapa kali dan dicampur air putih. Tapi, ya namanya terbawa suasana, kami rogoh juga kocek buat memuaskan nafsu duniawi kami. Perut sih gak kenyang, tapi ya mata dan hati kami lumayan tercukupi. hehe..

Hal itu jadi cukup menyadarkan saya. Selama ini saya kira saya sudah memasuki mesin waktu ke masa depan yang jauh, sehingga bumi yang saya tinggali ini sudah berbeda sama sekali dengan bumi semasa saya SD. Ternyata, saya itu masih ada di dunia yang sama. Bumi itu masih ber-rotasi dari barat ke timur. Masih mengelilingi matahari yang sama. Ternyata, saya itu tidak sejadul yang saya kira. Dan ternyata saya ga perlu minder sama anak-anak SD zaman sekarang.

Habisnya, gimana gak minder ya? Dulu itu pas saya SD, kalau gak main bola ya saya mainnya layangan. Nah sekarang, anak-anak TK saja mainannya sudah Ipad, anak SD-nya sudah rajin menyambangi warung internet. Dulu itu, kalau mau berteman kalau nggak sama teman sekelas, ya sama tetangga yang seumuran. Lah, anak sekarang itu jaringan pertemanannya sudah gak terbatas. Tinggal satu-dua kali klik, sudah bertambah satu teman baru. Dulu itu kalau punya artis favorit, ya setengah mati cari alamatnya lalu kirim surat via pak pos. Sekarang ini ya tinggal jadi “follower” aja udah beres. Hayo, gimana ga minder coba kalau jadi saya?

Untungnya hari ini saya tersadarkan. Saya ini masih hidup di Jakarta, Indonesia, dan planet yang sama. Perubahan memang ada dan tak terelakkan. Tapi itu tidak mesti menjadikan saya terasingkan dari dunia saya sendiri, atau dunia masa kecil saya. Dan ketika saya kangen ingin mengenang kembali masa-masa kecil saya, ternyata dunia belum seluruhnya berubah. Masih ada pelosok-pelosok Jakarta yang belum tersentuh megahnya modernitas. Masih ada gang-gang kecil di mana penjualnya masih obral senyum menjajakan cireng, cimol, es-teh-plastikan-lima-ratus-perak, juga telor-dadar-bulet-kecil-kecil.

Semuanya masih ada, mungkin akan selalu ada. Hanya sedang menunggu untuk kita temukan, saat kita mencari.

Jakarta, 3 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(semoga cimol tiga ribu perak tadi sore tidak membuat saya tambah gendut)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s